Sabtu, 08 Mei 2021
Pendekatan Pluralistik Religius dalam Studi Islam
Rabu, 05 Mei 2021
Epistemologi Mistik dan Sufistik (Irfani)
Epistemologi adalah salah satu cabang filsafat yang membahas tentang hakikat pengetahuan manusia. Epistemologi sendiri ada banyak macamnya, akan tetapi yang akan dibahas pada pertemuan kali ini adalah epistemologi mistik (yang berkaitan dengan hal gaib) dan sufistik (berkaitan dengan makrifat).
Epistemologi Mistik dibagi menjadi dua,yaitu mistik biasa dan mistik magis. Masing-masing tersebut memiliki cara kerja yang berbeda.
Mistik biasa di dalam Islam disebut Tasawwuf. Mistik jenis ini tidak berkaitan dengan kekuatan tertentu karena berasal dari Tuhan. Biasanya, cara untuk memperolehnya adalah dengan tawakkal (bisa berupa tirakat atau hal-hal yang lain yang mendekatkan diri kepada Allah SWT).
Selanjutnya adalah mistik magis, mistik yang berkaitan dengan kekuatan tertentu. Ada 2 jenis mistik magis, yaitu mistik magis putih dan mistik magis hitam. Sebagaimana kita sudah ketahui pada umumnya, mistik magis putih berkaitan dengan kekuatan Ilahiyah ketika manusia memperbanyak wirid, tirakat, dan doa. Sedangkan mistik magis hitam, berpartisipasi dengan jin-jin kafir.
Selanjutnya adalah Epistemologi Irfani (sufistik). Dalam kalangan sufial, irfan berarti al-kasyf dan al-ilham. Dilihat dari segi maknanya, dapat dilihat bahwasannya sistem pengetahuan irfani adalah sebuah sistem pengetahuan di mana sumber pengetahuannya adalah intuisi. Suatu pengetahuan diperoleh secara langsung tanpa perantara dan proses pembuktian. Ada beberapa tahapan untuk memperoleh pengetahuan irfani yaitu melalui persiapan, penerimaan, dan pengungkapan. Selainitu,di tengah kondisi zaman yang semakin modern, tidak menutup masyarakat untuk tetap mempercayai hal-hal yang berkaitan dengan mistis/mitos. Salah satucontoh mitos yang paling dekat dalam kehidupan kita yaitu adanya kepercayaan atau mitos dalam masyarakat Bugis Makasar yang sederhana. Misalnya adalah dilarangnya seseorang untuk duduk di atas bantal karena akan mengakibatkan kebisulan.
Rabu, 28 April 2021
Fenomenologi dalam Pendekatan Studi Islam
Dalam bahasa Yunani, fenomenologi berasal dari kata phaenesthai yang berarti menunjukkan dirinya sendiri. Pendekatan metodologi sendiri memiliki karakteristik yang kuat yaitu bisa memahami agama orang lain dalam perspektif netralitas dan menggunakan preferensi orang yang bersangkutan (untuk melakukan epoche).
Secara sederhana, fenomenologi adalah suatu gejala yang menampakkan diri pada kesadaran manusia. Cara gampangnya begini, ada suatu fenomena lalu manusia menangkap fenomena tersebut (yang mana membicarakan fenomena sehari-hari dan manusia bisa menyadarinya). Berkaitan dengan itu, ada tiga aspek yang berkaitan dengan fenomenologi yaitu:
1. Burhani (logika/rasio)
-Ada penafsiran berupa perpaduan bayani-burhani
-Penafsiran burhani murni
2. Bayani (tekstual = Al quran dan hadits)
3. Irfani (hati)
Dari tiga tingkatan di atas, sejatinya irfani lebih tinggi dari rasio. Karena hati sudah masuk ke ranah olah rasa (tidak sekadar berbicara tentang baik-buruk).
Berikut adalah contoh dari fenomenologi. Ada seseorang yang tersenyum kepada kita, lalu kesadaran kita langsung memberi respon, misal "Oh, dia tersenyum untuk menyapa." Atau bisa jadi malah kesadaran itu merespon, "Wah, kenapa dia tersenyum kepadaku? Jangan-jangan...", atau lain lagi, "Heh? Adakah yang aneh dalam diriku?" Hal ini menunjukkan bahwa betapa manusia itu memiliki kesadaran yang berbeda satu sama lain.
Jumat, 16 April 2021
Psikologi sebagai Pendekatan Keislaman
Di dalam mengkaji suatu permasalahan/ fenomena baru keislaman di dalam dunia modern, kita hendaknya juga harus memerhatikan aspek sosial. Bagaimanapun, kita harus mengingat bahwasanya dimensi manusia ada 2: abdullah dan khalifatullah. Dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang psikologi yang mana masuk dalam ranah ilmu sosial (meski pada dasarnya isinya tentang ilmu personal). Lalu, apa hubungan psikologi dengan studi Islam?
Dalam menentukan suatu hukum, manusia dituntut untuk memerhatikan interaksi sosial, memerhatikan kebudayaan serta sejarahnya. Pun dalam menentukan suatu hukum, juga harus memerhatikan aspek psikologi. Penerapan psikologi dalam studi Islam, sudah ada sejak zaman Kanjeng Nabi SAW, bahkan oleh beliau sendiri.
Ada suatu contoh. Suatu hari, datanglah seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi SAW, "Wahai Nabi, amalan apa yang paling baik?" Lalu Nabi SAW menjawab, "birrul walidayn."
Sahabat lain bertanya kepada Nabi di waktu yang lain, "Nabi, amalan apa yang paling baik?" Beliau menjawab, "sodaqoh."
Kemudian ada lagi sahabat lain yang bertanya, "Amalan apa yang paling baik, wahai Nabi? Tolong berikan kepada Saya nasihat yang paling baik." Beliau menjawab, "La taghdob wa lakal jannah."
Setiap jiwa memiliki kejiwaaan yang berbeda-beda. Sehingga agama menentukan hukum ataupun kewajiban juga berbeda sesuai dengan tingkatannya. Seperti contoh, seorang anak kecil yang tingkat keimanannya belum matang, maka ia tidak dikenai kewajiban untuk shalat 5 waktu sebagaimana yang sudah baligh.
Ada suatu contoh yang lebih menarik lagi mengenai aspek psikis yang harus diperhatikan dalam berdakwah. Tak jarang bagi kita mendengar slogan back to quran & sunnah yang sudah melalang buana ke beberapa penjuru dunia. Ya, memang benar bahwa segala sesuatu harus dikembalikan kepada al quran dan hadits. Namun, bagaimana ketika kita berdakwah di lingkungan pedalaman yang notabene orang-orangnya masih sangat awam? Oh, tentu sang pendakwah akan mendapat kesulitan. Bagi orang-orang yang awam, mereka tidak bisa langsung disetir untuk kembali ke al quran dan hadits. Karena jangankan kembali ke al quran dan hadits, membaca al quran saja belum tentu mereka mampu. Lalu, bagaimana caranya? Menggunakan metode dakwah yang bisa diterima oleh masyarakat dengan mudah, seperti yang telah dilakukan oleh para wali. Tidak dipungkiri bahwa segala sesuatu harus dikembalikan kepada al quran dan hadits, tapi beberapa hal tidak melulu harus selalu tertuju pada al quran dan hadits.
Jadi, kesimpulannya, ketika kita menentukan suatu hukum dan menyampaikan suatu kajian keislaman kepada masyarakat, kita harus melihat sisi psikologi masyarakat yang ada/individu yang sedang dihadapi.
Sabtu, 10 April 2021
Pendekatan Sosiologi dalam Studi Islam
Sosiologi merupakan gabungan dua kata dari Bahasa Latin dan Yunani, yakni socius yang berarti kawan dalam bahasa Latin, sedangkan logos bermakna ilmu pengetahuan dalam bahasa Yunani. Jadi, secara harafiah sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pola perilaku manusia dalam bermasyarakat. Adapun pengertian Sosiologi Menurut para ahl:
a) Auguste Comte Sebagai pencetus konsep sosiologi, mendefinisikan sosiologi sebagai ilmu positif. Artinya sosiologi bekerja mempelajari gejala-gejala social dalam masyarakat berlandaskan pada logika rasional dan ilmiah
b) Émile Durkheim Mengartikan sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji fakta dan institusi social dalam berbagai tatanan masyarakat. Dari kumpulan fakta terkait cara berpikir dan bertindak tersebut, Durkheim meyakin ia dan ya kekuatan untuk mengendalikan individu
c) Karl Marx Marx tidak secara eksplisit mendefinisikan sosiologi, tetapi dalam The Communist Manifesto meyakini bahwa masyarakat (proletar) perlu dibebaskan dari system kapitalis. Sosiologi dipercaya dapat melawan penindasan dan melahirkan masyarakat tanpa kelas.
Sebagai ilmu pengetahuan murni, sosiologi memiliki 4ciri utama, yaitu:
1. Empiris Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi didasarkan pada realitas sosial yang terjadi di lapangan dan tidak bersifat spekulatif
2. Teoritis Selalu berusaha Menyusun abstraksi berupa kesimpulan mengenai hubungan sebabakibat dari gejala sosial yang diteliti berdasarkan hasil pengamatan empiris
3. Kumulatif Dalam membangun argument terkait suatu fenomena tertentu harus dilandaskan pada kumpulan teori yang sudah tercipta sebelumnya
4. Non-etis Sosiologi ada tidak untuk menilai baik dan buruk suatu permasalahan, melainkan pada penjelasan logis terkait latar belakang terjadinya suatu fenomena tertentu.
Perspektif utama sosiologi dibagi menjadi tiga yaitu perspektif fungsional, perspektif konflik, dan perspektif simbolik. Sedangkan dalam tingkatan pendekatannya, sosiologis dibagi menjadi tiga yaitu pertama tingkatan teologi, tingakatan kedua metafisika, dan tingkatan ketiga adalah tingkatan positif.
Selasa, 06 April 2021
Kajian Antropologi dalam Hubungan Islam dan Budaya
Pada dasarnya antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia, mulai dari ciri fisik, asal-usul, hingga sosial dan kebudayaan manusia. Objek kajian antropologi adalah manusia. Dalam perkembangannya, antropologi terbagi menjadi empat fase, yaitu:
(1) sekitar tahun 1800
(2) pada pertengahan abad ke-19
(3) pada permulaan abad ke-20, dan
(4) sesudah tahun 1930.
Adapun secara garis besar antropologi terbagi menjadi dua; antropologi fisik, yang lebih menekankan aspek fisik dalam diri manusia, dan antropologi budaya, yang mempelajari tentang kebudayaan manusia. Agama dapat dikatakan sebagai sarana manusia untuk mengatasi masalah yang dihadapinya yang dilakukan melalui upacara keagamaan. Agama juga dipahami sebagai kepercayaan dan pola perilaku untuk mengendalikan alam. Sehingga agama menjadi bagian dari kebudayaan yang ada diseluruh dunia. Agama merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat. Sehingga dapat disimpulkan bila agama dan kebudayaan adalah dua hal yang berkaitan, dimana budaya muncul sebagai hasil dari perilaku manusia yang beragama.
Pembauran merupakan suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar kebudayaan yang berbeda. Setelah mereka bergaul dengan intensif, sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan masing-masing berubah menjadi unsur kebudaayaan campuran. ajaran Islam telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan akal pikiran manusia serta sosial budayanya untuk mewujudkan suatu sosial budaya dan masyarakat yang Islami. Pembauran dalam perspektif Islam sangatlah urgen, sebab pembauran dapat dijadikan sebagai lahan bagi manusia Islam untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah serta sebagai lahan bagi manusia tersebut untuk meningkatkan pundi-pundi amal baiknya.
Sabtu, 27 Maret 2021
Kajian Historis sebagai Pendekatan Kajian Keislaman
Sejarah dapat diartikan sebagai gambaran tentang peristiwa-peristiwa atau kejadian masa lampau yang dialami manusia, disusun secara ilmiah, meliputi urutan waktu tertentu, diberi tafsiran dan analisa kritis sehingga mudah dimengerti dan dipahami. Pada dasarnya, sejarah memang bisa menjadi perbincangan bahkan perselisihan banyak orang ketika sejarah itu memiliki pengaruh, apa lagi suatu pengaruh yang besar untuk umat.
Mengenai periode sejarah sendiri, menurut Harun
Nasution, Periode klasik dimulai tahun 650 hingga 1250 M, sejak Islam lahir
hingga kehancuran. Sejarah abad pertengahan dimulai kira-kira pada abad ke
1250-1800. Studi Islam modern dimulai sekitar paroh kedua abad ke-17 M hingga
sekarang.
Yang menarik dalam hal ini adalah tentang masa perkembangan Islam.
Sedikit sulit jika harus membedakan era modern dan era pembaharuan. Era
pembaharuan mulai marak setelah masa Ibnu Taimiyah, yang mana pendapat Ibnu
Taimiyah sering dikutip oleh kaum Wahabi. Pemikiran kaum Wahabi lebih cenderung
kembali ke era Rasulullah SAW yang mana terjadi hingga Wahabi pada saat ini identik dengan back to quran and sunnah.
Kemudian mengenai ittiba', ittiba' yaitu mengikuti dengan
dasar. Semisal adalah ketika seorang santri mengikuti kyai yang mana bersumber
guru yang sanadnya jelas.
Rabu, 24 Maret 2021
Tauhid sebagai Dasar Kehidupan
Pada dasarnya, tauhid adalah inti ajaran Islam yang mana dilakukan oleh dakwah para nabi yang disebut sebagai misi ketauhidan. Meskipun, secara syariat itu berbeda-beda. Namun, tujuannya sama yaitu mengesakan Allah SWT.
Ada bahasan menarik mengenai tauhid di sini. Yaitu tentang kebertauhidan iblis. Apakah iblis yang ingkar itu juga bertauhid? Akan banyak hal-hal yang rancu jika berbicara mengenai hal ini. Biar bagaimanapun, iblis tetaplah ciptaan Sang Khaliq yang mana Dia memerintahkan semua ciptaan-Nya untuk selalu tunduk dan bersujud kepadanya. Bukankah jika kita menelisik sejarah, kita temukan bahwasanya iblis adalah pemimpin para malaikat dan juga tinggal di Surga? Namun, ketika Allah SWT menciptakan Adam dan memerintahkan ciptaan-Nya untuk bersujud kepada Adam (malaikat dan iblis), iblis menolak. Kejadian ini pun diabadikan Allah SWT dalam Quran surat Al Baqarah ayat 34:
Wa idz qulna lil malaaa-ikatis juduu li aadama fasajaduu illaaa iblis. Abaaa wastakbar wa kaana minal kaafiriin.
Arti: "Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat "Sujudlah kamu kepada Adam!" Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir."
Kesimpulannya, urgensi tauhid sebagai dasar umat Islam yang mencakup seluruh aspek kehidupan termasuk di dalamnya adalah pendidikan. Pendidikan yang didasari oleh prinsip-prinsip tauhid akan senantiasa mengarah pada upaya yang maksimal guna tercapainya tujuan pendidikan secara utuh. Sehingga, dalam kehidupan sehari-hari pun semua tidaklah lepas dari kehendak-Nya.
Selasa, 23 Maret 2021
Sumber Materiil Praktik Kehidupan Islami
Senin, 08 Maret 2021
Studi Islam, Urgensi, dan Ruang Lingkupnya
Studi Islam adalah suatu usaha untuk mempelajari hal-hal yang ada kaitannya dengan agama Islam. Metodologi studi Islam sendiri diharapkan mampu menjadi pedoman dan pegangan hidup bagi umat Islam agar tetap menjadi muslim yang sejati agar mampu melewati tantangan dan tuntutan zaman.
Seiring berjalannya waktu, urgensi studi Islam sendiri tidak luput dari problematik umat, yaitu umat Islam masa kini dengan kondisi problematikanya & umat manusia dan peradabannya yang menyangkut masalah IPTEK.
Sebenarnya, untuk problematika yang terjadi pada umat Islam sendiri, itu terjadi sudah sejak sekian lama (baik dari faktor eksternal dan internal), yaitu sejak masa Rasulullah SAW dan masa-masa sahabat, tabiin, dan seterusnya. Umat Islam tertinggal dari banyak aspek, baik dari segi ekonomi, sosial, politik, pendidikan, dan lain sebagainya. Lalu, bagaimana cara mengatasi problematika tersebut minimal dari diri sendiri? Yaitu minimal kita harus berpikir bahwasanya Islam tidak melulu berbicara masalah agama yang menyangkut akhirat saja, tapi juga berbicara mengenai aspek-aspek seperti ekonomi, sosial, politik, teknologi, pendidikan, dan seterusnya. Hal ini memang tidak bisa mengubah citra Islam sepenuhnya, tapi menyadari betapa pentingnya hal ini, paling sedikit sudah menerapkan Islam sebagai way of life.
Sedangkan untuk ruang lingkup studi Islam sendiri, ada tiga:
1. Wilayah praktik keyakinan
2. Teori-teori terhadap wahyu, dan
3. Wilayah substansi Islam
Dari ketiga ruang lingkup di atas, bisa disimpulkan bahwa Islam berperan sebagai doktrin Tuhan yang dapat diterima secara apa adanya oleh pemeluknya, Islam sebagai gejala budaya dan historis berperan dalam pemahaman masyarakat tentang agama mereka, dan Islam sebagai interaksi sosial umat Islam.
Rabu, 03 Maret 2021
Islam sebagai Doktrin dan Islam sebagai Jalan Hidup
Pada dasarnya, Islam memiliki dua peran, yaitu Islam sebagai doktrin dan Islam sebagai jalan hidup. Namun, Islam sebagai doktin di sini bukanlah merupakan suatu bentuk pendikotomian, akan tetapi berfungsi sebagai klasifikasi pada suatu objek kajian, mana yang perlu dikaji dan mana yang tidak perlu dikaji.
Berbicara mengenai Islam sebagai doktrin, doktrin adalah suatu ajaran yang bersifat absolut atau tidak bisa diganggu gugat. Dalam ajaran Islam, memang ada ajaran yang bersifat dinamis (bisa berubah-ubah), akan tetapi juga ada ajaran yang bersidat absolut (tidak bisa diganggu gugat) meskipun zaman selalu berkembang. Dan ajaran yang tidak bisa diganggu gugat inilah yang disebut sebagai doktin. Ada tiga trilogi doktrin Islam, yaitu:
1. Islam
Mencakup tentang rukun Islam 5 yang wajib dikerjakan oleh seorang muslim. Karena sejatinya, Islam di sini adalah suatu perbuatan zahir yang wajib dilakukan seperti syahadat, salat, zakat, puasa, dan menunaikan ibadah haji. Lalu, di mana letak keabsolutannya? Sebagai contoh, Si A yang tinggal di Indonesia hendak melaksanakan salat akan tetapi dia ingin berjamaah dengan imam yang ada di Arab sana. Dia lalu melakukan teleconference agar bisa berjamaah. Waktu isya antara Indonesia dan Arab jelaslah berbeda. Maka dari itu, tidak bisa si A melaksanakan salat berjamaah via teleconference seperti itu. Maka, di sinilah perannya, sebab tidak semua sesuatu itu bisa diganggu gugat.
2. Iman
Jika dalam rukun Islam adalah perbuatan zahir, maka dalam tingkatan ini manusia tidak hanya melakukan perbuatan zahir semata, akan tetapi memakai hati sebagai bentuk keyakinan. Keyakinan terhadap apa saja? Yaitu keyakinan yang tercakup di dalam 6 rukun iman:
- Iman kepada Allah SWT
- Iman kepada malaikat
- Iman kepada kitab-kitab
- Iman kepada para rasul
- Iman kepada hari akhir, dan
- Iman kepada qada' dan qadar
3. Ihsan
Bagaimanapun, meskipun tidak bisa melihat secara kasat mata, akan tetapi manusia harus meyakini bahwasanya Allah adalah tujuan paling inti dan Dia senantiasa mengetahui apa yang hamba-hamba-Nya perbuat. Manusia harus yakin bahwasanya ketika melakukan hal apapun, tidak luput dari pengawasan-Nya.
Setelah berbicara Islam sebagai doktrin, maka selanjutnya adalah Islam sebagai the way of life atau jalan hidup. Islam tidak hanya memandang segala sesuatu dari satu sisi, akan tetapi dari banyak sisi seperti di bidang sosial, ekonomi, politik, budaya, dan yang lainnya.
Mengutip dari apa yang disampaikan oleh Pak Ahmad Muzakkil Anam M.Pd, I., dosen Metodologi Studi Islam Institut Agama Islam Negeri Surakarta, beliau mengambil kutipan dari salah satu dosen beliau yang berbunyi, "Kanjeng Nabi Muhammad SAW itu jangan dipandang sebagai menteri agama". Maksudnya bagaimana? Peran kanjeng Nabi Muhammad SAW tidak hanya mengurus masalah agama saja, akan tetapi beliau juga mengurusi negara. Tentang bagaimana siasat ekonomi, tidak memperbolehkan riba, syarat sah akad dalam jual beli, dan hal-hal lain yang bersifat duniawi.
Kemudian, jika kita hendak menjadikan Islam sebagai the way of life, maka kita juga harus menyesuaikannya dengan kondisi zaman yang selalu berubah-ubah. Ya, tak bisa dipungkiri bahwasanya Al-quran dan hadit sudah selesai berabad-abad silam (tanpa ada penambahan) seiring berjalannya waktu, sedangkan zaman terus berkembang dengan segala problematikanya. Jika manusia tidak bisa menyesuaikannya, akan sangat fatal akibatnya. Seperti contoh, seseorang yang tidak mau melakukan/memakai sesuatu dengan dalih sesuatu itu tidak ada di zaman Kanjeng Nabi SAW lalu dia menghakimi bahwa sesuatu itu bid'ah (sesuatu yang tidak ada di zaman Kanjeng Nabi SAW) dan haram hukumnya. Padahal, bid'ah sendiri terbagi menjadi dua yaitu bid'ah hasanah (yang baik) dan bid'ah dhalalah (yang menyesatkan). Contoh kecil, tanpa adanya bid'ah (khasanah, tentu saja) umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW sekarang tidak akan bisa membaca Al quran yang dulunya hanya Arab gundul, karena pemberian syakal tidak ada di zaman Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Dari sini bisa kita simpulkan bahwasanya peran studi Islam adalah sebagai jembatan antara teks yang bersifat absolut dan keadaan zaman yang dinamis. Berikut adalah beberapa prinsip Islam sebagai the way of life:
- Sesuai fitrah
- Seimbang dunia-akhirat
- Tidak mempersulit manusia
- Menyesuaikan IPTEK
- Orientasi masa depan lebih baik
- Adil
- Persamaan derajat
Rabu, 24 Februari 2021
Manusia dan Agama
Pernahkah kita berpikir tentang apakah manusia bisa hidup tanpa agama? Atau mungkin, bagaimana jika manusia hidup tanpa agama? Ya, kita bisa menjawab "manusia membutuhkan agama sebagai pedoman untuk hidup" karena kita adalah manusia yang beragama. Namun, apa yang terjadi jika kita sama sekali tidak mengenal agama sejak dahulu kala? Tinggal di suatu tempat yang jauh sekali dari peradaban yang tak pernah tersentuh oleh apapun?
Mari kita bahas hal ini!
Sejatinya, jika agama dipahami sebagai agama formal yang sudah melembaga, maka bisa saja dikatakan bahwasanya manusia tidak butuh agama karena agama hanya sebagai formalitas saja. Namun jika dilihat dari sisi di mana konsep ketuhanan yang ada pada diri manusia, maka agama jelas tidak bisa hidup tanpa agama. Toh sebenarnya, ketika manusia lahir, di dalam hatinya sudah berkeyakinan adanya Tuhan (terlepas dari dia akan memeluk agama apa nantinya).
A. Manusia di dalam Al Quran
Manusia dalam Islam selalu mencakup 2 aspek; jasmani dan rohani. Di Al quran penyebutan manusia tidak hanya "insan" saja, akan tetapi ada juga "basyar".
Basyar lebih menekankan hanya pada aspek "jasmani" saja, sehingga aspek lain-lain yang mencakup kesempurnaan manusia tidak terdapat di sini. Sebagaimana orang gila atau orang yang kurang waras, mereka disebut sebagai basyar karena hanya sehat jasmaniyahnya saja.
Sedangkan, insan adalah totalitas manusia yang sesungguhnya. Adanya harmoni, totalitas jiwa-raga, fisik, dan mental. Insan: arti manusia lebih menekankan aspek batin.
Namun, ada beberapa pendapat para tokoh yang tidak sama dengan Islam. Salah satu contohnya adalah pendapat Ernst Cassires, "Manusia tidak dapat didefinisikan berdasarkan sifat metafisik dan fisiknya. Ciri utama manusia terletak pada karyanya."
B. Bagaimana Manusia Terbentuk
1.Manusia Materi
Manusia tercipta dari tanah yang selalu berada di bawah di mana pun posisi dan tempatnya. Salah besar jika manusia selalu memandang fisik sebagai kualitas dari seseorang, karena sumber penciptaan manusia adalah dari tanah yang berada di bawah.
2. Manusia Non-materi
"Laqod kholaqnal insana fi ahsani taqwim"
Manusia diciptakan dengan bentuk sebaik-baiknya.
C. Bagaimana Agama dalam Terminologi
Diantaranya adalah sebagai berikut:
- Kekalahan dalam penyerahan diri kepada yang berkuasa
- Ketaatan pihak lemah kepada pihak yang lebih berkuasa
- UU hukum pidana, perdata, dan peraturan yang berlaku ditaati
D. Unsur Agama
- Emosi keagamaan
- Tempat dan peralatan keagamaan
- Kelompok penganut
- Upacara keagamaan
- Sistem keyakinan
E. Fungsi Agama
Bukan agama namanya jika tidak memiliki suatu fungsi. Berikut beberapa fungsi agama:
- Agama menyajikan dukungan moral dan sarana emosional, pelipur lara dan rekonsiliasi saat manusia sedang mengalami frustasi atau sedang menghadapi ketidakpastian
- Agama mengesahkan, memberi legitimasi dan mensucikan nilai & norma dalam masyarakat
- Agama menyajikan sarana hubungan transendental melalui amal ibadah
- Agama memberikan status atau identitas baru dalam siklus perkembangan individual melalui berbagai krisis rites
Rabu, 17 Februari 2021
Intro ^^
Hai! Perkenalkan, namaku Lila. Panggil saja "Lila" atau "Alila", atau bisa panggil sesukanya, deh. Asal jangan panggil pakai yang aneh-aneh, apa lagi sampai ngatain, hehe. Jangan, ya, karena al-kalamu nisfu du'a.
Oh, iya. Aku orang Jawa, (Jawa-ban dari doa-doanya di sepertiga malam). Ehe. Aamiin. But, seriously, aku orang Jawa tulen yang tinggal di salah satu kota di bagian barat Jawa Timur. Sebuah kota kecil yang baru-baru ini populer sebab sebuah lagu perihal medhot janji. Well, meski tinggal di kota yang dijuluki sebagai "Kota Ramah" itu, tapi aku lahir dan besar di salah satu kota budaya di Jawa Tengah. Kota dengan sejuta cerita di dalamnya. Iya, benar. Jika di dalam bayanganmu yang terlintas adalah "Kota Solo", nilai 100 untukmu karena aku memang banyak mengenyam pendidikanku di sana.
Emm... Berbicara tentang Solo, aku punya banyaaak sekali kisah di sana. Terutama kisah pada masa putih abu. Mau sedikit cerita, nih. Hehe. Sedikit pengalaman pahit di bangku putih abu.
Layaknya dunia entertain, ketika seseorang berada di bawah, dia akan diinjak-injak dan begitu namanya berhasil membumbung tinggi di atas, dia akan dijunjung-junjung. Yah, jatuh-bangun benar-benar aku rasakan mulai di bangku putih-abu. Berusaha bertahan menjadi minoritas di antara mayoritas yang ada. Hingga suatu hari, perjalanan menata masa depan dimulai. Aku tidak bisa terus terpuruk dalam situasi dan kondisi yang sama sekali tidak mendukungku. Aku mulai maju dengan langkah-langkah kecil. Berusaha bangkit karena pikirku, masa putih-abu yang menurutku suram itu akan segera berakhir. Pelan-pelan aku melangkah kembali, dengan ditemani oleh beberapa orang seperjuangan yang bisa kuanggap sebagai "sahabat". Namun, dalam proses perjalananku, tentu saja bukan hal yang mudah. Tampaknya, benturan antara ziyadah dan murajaah kala itu membuat aku kalang kabut. Sedang syahadah hanya tinggal hitungan hari lagi. Belum lagi, persiapan serangkaian ujian yang nyaris membuatku frustasi sepanjang hari.
Masa-masa itu, bagiku adalah masa yang berat meski sebenarnya belum seberapa. Belum seberapa dari dunia luar yang sesungguhnya. Aku bahkan tidak berpikir ke mana aku akan melanjutkan pendidikanku. Kuliah, kah? Kerja, kah? Aku masih acuh kala itu. Hingga suatu hari, Arabic Fair yang diselenggarakan oleh salah satu PTN ternama di Solo berhasil mencuri hatiku.
"Aku dan Sastra Arab," mimpiku kala itu. Sebuah kompetisi yang membuatku gagal rupanya justru menciptakan planning lain di otakku.
"Jika gagal menjadi peserta, tahun depan mungkin aku bisa jadi panitia."
Tapi, yah... Qadarullah. Sebelum aku berjuang terlalu jauh, takdir-Nya memang selalu tak terduga. Salah satu mimpi yang aku tulis di dalam secarik kertas tercapai!
"S1 Sastra Inggris (PTKIN mana aja entah UIN, IAIN)".
Memang sedari awal, aku hanya berniat untuk lanjut ke PTKIN, atau jika tidak, plan keduaku adalah menuju Ma'had Aly. Euphoria aku, selega itu. Lalu, aku menyampaikan kabar baik ini kepada orang tua yang tak hentinya merapalkan doa demi keberhasilanku. Dan beberapa waktu kemudian, takdir Allah memang selalu tak terduga-duga. Dengan kondisi finansial orang tua yang selalu dihujat tetangga "memangnya petani bisa menguliahkan anak?", ternyata Allah menangkis perkataan mereka dengan suatu senjata yang tak terduga; beasiswa.
Allah, sekali lagi hatiku dibuat berdebar atas nikmat-Mu yang selalu berlebih-lebih.
"Beasiswa S1 Sastra Inggris" yang kutulis dalam secarik kertas bersandingan dengan Shalawat Qamaril Wujud, benar-benar terwujud. Aku malu kala itu, aku malu pada Tuhanku yang telah melebih-lebihkan nikmatnya untukku. Sedang aku sendiri justru terlihat kocar-kacir dengan hafalanku, tirakat hanya aku lakukan sesekali, bahkan aku pun nyaris putus asa terhadap diriku sendiri, tapi apa yang Dia berikan sungguh di luar praduga.
Pesanku buat siapapun yang tengah berjuang, tetaplah istiqomah, istiqomah, dan istiqomah. Jangan lihat bagaimana hasilnya nanti, percayalah, Allah sudah menggariskan yang terbaik untukmu. Dengan catatan; jangan pernah berhenti berusaha & berdoa. Semangat, hidup untuk kita semua yang punya semangat ^^
-end.
Ehem. Jadinya bukan sedikit cerita, ya. Tapi panjang cerita, sepertinya😭 But, it's okay. Sedikit cerita semoga bisa memotivasi, ya. Dan jika ditanya, apa tujuan dan planningku ke depan, jawabannya mungkin akan lebih panjang dari wawancara podcast-nya Om Deddy Corbuzier (canda Om Deddy😭).
Pertama, tentang jurusan Sastra Inggris yang mana di tahun 2021 ini aku berada di semester 4. Goal saat ini adalah selalu mempertahankan cumlaude dan lulus lebih cepat, jika Allah menghendaki. Kenapa harus cumlaude? Karena saat ini, aku mengenyam bangku kuliah selain menjadi tanggungan orang tua juga menjadi tanggungan negara dan aku dibiayai oleh keduanya. Jadi, paling sedikit aku ingin berkontribusi.
Kedua, motivasi masuk Sastra Inggris sejujurnya agar aku bisa mendapat ilmu lalu bisa melamar kerja. Di bidang penerjemahan, planning pertamaku. Dan planning kedua, menjadi editor di sebuah penerbitan mayor. Semoga, jika Allah menghendaki.
Ketiga, apa aku masih punya goal lagi selain yang berkaitan dengan jurusanku? Oh, tentu saja iya. Meski aku tahu aku bukan penulis hebat yang bisa melahirkan karya-karya berkualitas, tapi mimpiku menjadi penulis tak pernah luntur sedikit pun. Aku ingin suatu hari nanti, orang-orang akan mengenalku dengan karya-karyaku, entah novel atau remahan puisi-puisiku. Ya, aku tidak akan menyerah. Aku maju, harus selalu maju seperti apa yang pernah aku katakan kepada seseorang; Kalau kamu cari yang cantik, aku maju. Kalau kamu cari yang cerdas, aku juga maju, apa lagi kalau kamu cari yang suka nulis, aku maju paling depan!
Keempat, adalah ketertarikanku dengan ilmu-ilmu yang berbasis agama. Meski mengambil jurusan sastra, tapi jujur saja, aku lebih tertarik dengan mata kuliah berbasis kegamaan seperti fikih, ilmu kalam, sejarah peradaban Islam, dan Islam dan budaya Jawa. Goalku, aku berpengetahuan luas dalam hal-hal ini (meski bukan untuk kepentingan jurusan dan pekerjaan, ya). Pokoknya, aku harus cerdas setidaknya dimulai dari hal-hal paling kecil, untuk diajarkan kepada anak-anakku kelak. Because of Al-ummu madrasatul 'ulaa.
Btw, let's talk anything with me on my Instagram: @alila.chan_
And you can see some of my webpages in tabs on this blog. See ya!
