Rabu, 24 Februari 2021

Manusia dan Agama

Diposting oleh A.Lila di 15.51 0 komentar

    Pernahkah kita berpikir tentang apakah manusia bisa hidup tanpa agama? Atau mungkin, bagaimana jika manusia hidup tanpa agama? Ya, kita bisa menjawab "manusia membutuhkan agama sebagai pedoman untuk hidup" karena kita adalah manusia yang beragama. Namun, apa yang terjadi jika kita sama sekali tidak mengenal agama sejak dahulu kala? Tinggal di suatu tempat yang jauh sekali dari peradaban yang tak pernah tersentuh oleh apapun?

Mari kita bahas hal ini! 

Sejatinya, jika agama dipahami sebagai agama formal yang sudah melembaga, maka bisa saja dikatakan bahwasanya manusia tidak butuh agama karena agama hanya sebagai formalitas saja. Namun jika dilihat dari sisi di mana konsep ketuhanan yang ada pada diri manusia, maka agama jelas tidak bisa hidup tanpa agama. Toh sebenarnya, ketika manusia lahir, di dalam hatinya sudah berkeyakinan adanya Tuhan (terlepas dari dia akan memeluk agama apa nantinya). 

A. Manusia di dalam Al Quran

    Manusia dalam Islam selalu mencakup 2 aspek; jasmani dan rohani. Di Al quran penyebutan manusia tidak hanya "insan" saja, akan tetapi ada juga "basyar". 

Basyar lebih menekankan hanya pada aspek "jasmani" saja, sehingga aspek lain-lain yang mencakup kesempurnaan manusia tidak terdapat di sini. Sebagaimana orang gila atau orang yang kurang waras, mereka disebut sebagai basyar karena hanya sehat jasmaniyahnya saja.

Sedangkan, insan adalah totalitas manusia yang sesungguhnya. Adanya harmoni, totalitas jiwa-raga, fisik, dan mental. Insan: arti manusia lebih menekankan aspek batin. 

Namun, ada beberapa pendapat para tokoh yang tidak sama dengan Islam. Salah satu contohnya adalah pendapat Ernst Cassires, "Manusia tidak dapat didefinisikan berdasarkan sifat metafisik dan fisiknya. Ciri utama manusia terletak pada karyanya."

B. Bagaimana Manusia Terbentuk 

1.Manusia Materi

Manusia tercipta dari tanah yang selalu berada di bawah di mana pun posisi dan tempatnya. Salah besar jika manusia selalu memandang fisik sebagai kualitas dari seseorang, karena sumber penciptaan manusia adalah dari tanah yang berada di bawah. 

2. Manusia Non-materi

"Laqod kholaqnal insana fi ahsani taqwim"

Manusia diciptakan dengan bentuk sebaik-baiknya. 

C. Bagaimana Agama dalam Terminologi

Diantaranya adalah sebagai berikut:

- Kekalahan dalam penyerahan diri kepada yang berkuasa

- Ketaatan pihak lemah kepada pihak yang lebih berkuasa

- UU hukum pidana, perdata, dan peraturan yang berlaku ditaati

D. Unsur Agama

- Emosi keagamaan

- Tempat dan peralatan keagamaan

- Kelompok penganut

- Upacara keagamaan

- Sistem keyakinan 

E. Fungsi Agama

Bukan agama namanya jika tidak memiliki suatu fungsi. Berikut beberapa fungsi agama:

- Agama menyajikan dukungan moral dan sarana emosional, pelipur lara dan rekonsiliasi saat manusia sedang mengalami frustasi atau sedang menghadapi ketidakpastian

- Agama mengesahkan, memberi legitimasi dan mensucikan nilai & norma dalam masyarakat

- Agama menyajikan sarana hubungan transendental melalui amal ibadah

- Agama memberikan status atau identitas baru dalam siklus perkembangan individual melalui berbagai krisis rites


Rabu, 17 Februari 2021

Intro ^^

Diposting oleh A.Lila di 08.17 1 komentar


    Hai! Perkenalkan, namaku Lila. Panggil saja "Lila" atau "Alila", atau bisa panggil sesukanya, deh. Asal jangan panggil pakai yang aneh-aneh, apa lagi sampai ngatain, hehe. Jangan, ya, karena al-kalamu nisfu du'a

    Oh, iya. Aku orang Jawa, (Jawa-ban dari doa-doanya di sepertiga malam). Ehe. Aamiin. But, seriously, aku orang Jawa tulen yang tinggal di salah satu kota di bagian barat Jawa Timur. Sebuah kota kecil yang baru-baru ini populer sebab sebuah lagu perihal medhot janjiWell, meski tinggal di kota yang dijuluki sebagai "Kota Ramah" itu, tapi aku lahir dan besar di salah satu kota budaya di Jawa Tengah. Kota dengan sejuta cerita di dalamnya. Iya, benar. Jika di dalam bayanganmu yang terlintas adalah "Kota Solo", nilai 100 untukmu karena aku memang banyak mengenyam pendidikanku di sana. 

    Emm... Berbicara tentang Solo, aku punya banyaaak sekali kisah di sana. Terutama kisah pada masa putih abu. Mau sedikit cerita, nih. Hehe. Sedikit pengalaman pahit di bangku putih abu.

    Layaknya dunia entertain, ketika seseorang berada di bawah, dia akan diinjak-injak dan begitu namanya berhasil membumbung tinggi di atas, dia akan dijunjung-junjung. Yah, jatuh-bangun benar-benar aku rasakan mulai di bangku putih-abu. Berusaha bertahan menjadi minoritas di antara mayoritas yang ada. Hingga suatu hari, perjalanan menata masa depan dimulai. Aku tidak bisa terus terpuruk dalam situasi dan kondisi yang sama sekali tidak mendukungku. Aku mulai maju dengan langkah-langkah kecil. Berusaha bangkit karena pikirku, masa putih-abu yang menurutku suram itu akan segera berakhir. Pelan-pelan aku melangkah kembali, dengan ditemani oleh beberapa orang seperjuangan yang bisa kuanggap sebagai "sahabat". Namun, dalam proses perjalananku, tentu saja bukan hal yang mudah. Tampaknya, benturan antara ziyadah dan murajaah kala itu membuat aku kalang kabut. Sedang syahadah hanya tinggal hitungan hari lagi. Belum lagi, persiapan serangkaian ujian yang nyaris membuatku frustasi sepanjang hari. 

Masa-masa itu, bagiku adalah masa yang berat meski sebenarnya belum seberapa. Belum seberapa dari dunia luar yang sesungguhnya. Aku bahkan tidak berpikir ke mana aku akan melanjutkan pendidikanku. Kuliah, kah? Kerja, kah? Aku masih acuh kala itu. Hingga suatu hari, Arabic Fair yang diselenggarakan oleh salah satu PTN ternama di Solo berhasil mencuri hatiku. 

"Aku dan Sastra Arab," mimpiku kala itu. Sebuah kompetisi yang membuatku gagal rupanya justru menciptakan planning lain di otakku. 

"Jika gagal menjadi peserta, tahun depan mungkin aku bisa jadi panitia."

Tapi, yah... Qadarullah. Sebelum aku berjuang terlalu jauh, takdir-Nya memang selalu tak terduga. Salah satu mimpi yang aku tulis di dalam secarik kertas tercapai!

"S1 Sastra Inggris (PTKIN mana aja entah UIN, IAIN)".

Memang sedari awal, aku hanya berniat untuk lanjut ke PTKIN, atau jika tidak, plan keduaku adalah menuju Ma'had Aly. Euphoria aku, selega itu. Lalu, aku menyampaikan kabar baik ini kepada orang tua yang tak hentinya merapalkan doa demi keberhasilanku. Dan beberapa waktu kemudian, takdir Allah memang selalu tak terduga-duga. Dengan kondisi finansial orang tua yang selalu dihujat tetangga "memangnya petani bisa menguliahkan anak?", ternyata Allah menangkis perkataan mereka dengan suatu senjata yang tak terduga; beasiswa. 

Allah, sekali lagi hatiku dibuat berdebar atas nikmat-Mu yang selalu berlebih-lebih. 

"Beasiswa S1 Sastra Inggris" yang kutulis dalam secarik kertas bersandingan dengan Shalawat Qamaril Wujud, benar-benar terwujud. Aku malu kala itu, aku malu pada Tuhanku yang telah melebih-lebihkan nikmatnya untukku. Sedang aku sendiri justru terlihat kocar-kacir dengan hafalanku, tirakat hanya aku lakukan sesekali, bahkan aku pun nyaris putus asa  terhadap diriku sendiri, tapi apa yang Dia berikan sungguh di luar praduga. 

Pesanku buat siapapun yang tengah berjuang, tetaplah istiqomah, istiqomah, dan istiqomah. Jangan lihat bagaimana hasilnya nanti, percayalah, Allah sudah menggariskan yang terbaik untukmu. Dengan catatan; jangan pernah berhenti berusaha & berdoa. Semangat, hidup untuk kita semua yang punya semangat ^^

-end. 

    Ehem. Jadinya bukan sedikit cerita, ya. Tapi panjang cerita, sepertinya😭 But, it's okay. Sedikit cerita semoga bisa memotivasi, ya. Dan jika ditanya, apa tujuan dan planningku ke depan, jawabannya mungkin akan lebih panjang dari wawancara podcast-nya Om Deddy Corbuzier (canda Om Deddy😭). 

Pertama, tentang jurusan Sastra Inggris yang mana di tahun 2021 ini aku berada di semester 4. Goal  saat ini adalah selalu mempertahankan cumlaude dan lulus lebih cepat, jika Allah menghendaki.  Kenapa harus cumlaude? Karena saat ini, aku mengenyam bangku kuliah selain menjadi tanggungan orang tua juga menjadi tanggungan negara dan aku dibiayai oleh keduanya. Jadi, paling sedikit aku ingin berkontribusi.

Kedua, motivasi masuk Sastra Inggris sejujurnya agar aku bisa mendapat ilmu lalu bisa melamar kerja. Di bidang penerjemahan, planning pertamaku. Dan planning kedua, menjadi editor di sebuah penerbitan mayor. Semoga, jika Allah menghendaki. 

Ketiga, apa aku masih punya goal lagi selain yang berkaitan dengan jurusanku? Oh, tentu saja iya. Meski aku tahu aku bukan penulis hebat yang bisa melahirkan karya-karya berkualitas, tapi mimpiku menjadi penulis tak pernah luntur sedikit pun. Aku ingin suatu hari nanti, orang-orang akan mengenalku dengan karya-karyaku, entah novel atau remahan puisi-puisiku. Ya, aku tidak akan menyerah. Aku maju, harus selalu maju seperti apa yang pernah aku katakan kepada seseorang; Kalau kamu cari yang cantik, aku maju. Kalau kamu cari yang cerdas, aku juga maju, apa lagi kalau kamu cari yang suka nulis, aku maju paling depan! 

Keempat, adalah ketertarikanku dengan ilmu-ilmu yang berbasis agama. Meski mengambil jurusan sastra, tapi jujur saja, aku lebih tertarik dengan mata kuliah berbasis kegamaan seperti fikih, ilmu kalam, sejarah peradaban Islam, dan Islam dan budaya Jawa. Goalku, aku berpengetahuan luas dalam hal-hal ini (meski bukan untuk kepentingan jurusan dan pekerjaan, ya). Pokoknya, aku harus cerdas setidaknya dimulai dari hal-hal paling kecil, untuk diajarkan kepada anak-anakku kelak. Because of Al-ummu madrasatul 'ulaa. 

Btw, let's talk anything with me on my Instagram: @alila.chan_ 

And you can see some of my webpages in tabs on this blog. See ya! 


 


 

Catatan Alila Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review