Sabtu, 27 Maret 2021

Kajian Historis sebagai Pendekatan Kajian Keislaman

Diposting oleh A.Lila di 06.11 0 komentar

    Sejarah dapat diartikan sebagai gambaran tentang peristiwa-peristiwa atau kejadian masa lampau yang dialami manusia, disusun secara ilmiah, meliputi urutan waktu tertentu, diberi tafsiran dan analisa kritis sehingga mudah dimengerti dan dipahami. Pada dasarnya, sejarah memang bisa menjadi perbincangan bahkan perselisihan banyak orang ketika sejarah itu memiliki pengaruh, apa lagi suatu pengaruh yang besar untuk umat. 

    Mengenai periode sejarah sendiri, menurut Harun Nasution, Periode klasik dimulai tahun 650 hingga 1250 M, sejak Islam lahir hingga kehancuran. Sejarah abad pertengahan dimulai kira-kira pada abad ke 1250-1800. Studi Islam modern dimulai sekitar paroh kedua abad ke-17 M hingga sekarang.
    Yang menarik dalam hal ini adalah tentang masa perkembangan Islam. Sedikit sulit jika harus membedakan era modern dan era pembaharuan. Era pembaharuan mulai marak setelah masa Ibnu Taimiyah, yang mana pendapat Ibnu Taimiyah sering dikutip oleh kaum Wahabi. Pemikiran kaum Wahabi lebih cenderung kembali ke era Rasulullah SAW yang mana terjadi hingga Wahabi pada saat ini identik dengan back to quran and sunnah. 
    Kemudian mengenai ittiba', ittiba' yaitu mengikuti dengan dasar. Semisal adalah ketika seorang santri mengikuti kyai yang mana bersumber guru yang sanadnya jelas. 

 

Rabu, 24 Maret 2021

Tauhid sebagai Dasar Kehidupan

Diposting oleh A.Lila di 06.41 0 komentar

    Pada dasarnya, tauhid adalah inti ajaran Islam yang mana dilakukan oleh dakwah para nabi yang disebut sebagai misi ketauhidan. Meskipun, secara syariat itu berbeda-beda. Namun, tujuannya sama yaitu mengesakan Allah SWT. 

    Ada bahasan menarik mengenai tauhid di sini. Yaitu tentang kebertauhidan iblis. Apakah iblis yang ingkar itu juga bertauhid? Akan banyak hal-hal yang rancu jika berbicara mengenai hal ini. Biar bagaimanapun, iblis tetaplah ciptaan Sang Khaliq yang mana Dia memerintahkan semua ciptaan-Nya untuk selalu tunduk dan bersujud kepadanya. Bukankah jika kita menelisik sejarah, kita temukan bahwasanya iblis adalah pemimpin para malaikat dan juga tinggal di Surga? Namun, ketika Allah SWT menciptakan Adam dan memerintahkan ciptaan-Nya untuk bersujud kepada Adam (malaikat dan iblis), iblis menolak. Kejadian ini pun diabadikan Allah SWT dalam Quran surat Al Baqarah ayat 34:

Wa idz qulna lil malaaa-ikatis juduu li aadama fasajaduu illaaa iblis. Abaaa wastakbar wa kaana minal kaafiriin.

Arti: "Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat "Sujudlah kamu kepada Adam!" Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir."

    Kesimpulannya, urgensi tauhid sebagai dasar umat Islam yang mencakup seluruh aspek kehidupan termasuk di dalamnya adalah pendidikan. Pendidikan yang didasari oleh prinsip-prinsip tauhid akan senantiasa mengarah pada upaya yang maksimal guna tercapainya tujuan pendidikan secara utuh. Sehingga, dalam kehidupan sehari-hari pun semua tidaklah lepas dari kehendak-Nya.

    

Selasa, 23 Maret 2021

Sumber Materiil Praktik Kehidupan Islami

Diposting oleh A.Lila di 01.28 0 komentar
    Sumber materiil praktik kehidupan Islami ada tiga, yaitu Al-Qur’an, hadist, dan alam semesta. Al-Qur’an sendiri merupakan sumber utama dari segala sumber yang ada karena Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW. Di dalam Al-Qur’an membahas tentang banyak permasalahan mulai dari ibadah, tauhid, janji dan ancaman, dan kisah-kisah tentang Nabi dan Rasul, orang shaleh, serta orang yang ingkar terhadap Allah.

    Kemudian sumber materiil yang kedua adalah hadits. Hadist sendiri berfungsi sebagai penjelas ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang masih bersifat global (masih kurang jelas) atau sebagai penentu beberapa hukum yang tidak terdapat dalam AlQur’an. Hadits dibagi menjadi 4, yaitu:

1. Qauliyah
yaitu mencakup apa-apa saja yang dikatakan oleh Rasulullah SAW.

2. Fi'liyah
yaitu mencakup apa saja perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

3. Taqririyah
sebuah ketetapan Rasulullah SAW antara tidak mengiyakan dan tidak melarang suatu perbuatan yang dilakukan oleh sahabat (beliau cenderung diam).
contoh: Ketika Rasulullah SAW dan Khalid bin Walid sedang bertamu dan keduanya disuguhi dzab (daging biawak), Khalid bin Walid memakannya dan Rasul hanya mendiamkannya saja.

4. Hammiyah
sesuatu yang telah direncanakan oleh Rasulullah SAW, akan tetapi sesuatu itu belum sempat dikerjakan dan beliau sudah wafat.
contoh: Puasa pada hari Asyura.

    Bagaimana pun, alam semesta memiliki kaitanannya dengan Islam mulai dari proses penciptaannya yang bertujuan untuk menunjukkan kebesaran Allah. Dengan adanya tiga sumber hukum tersebut kita dapat menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari kita yang mana ada beberapa yang telah diterapkan dan seakan menjadi suatu keharusan padahal itu tidak wajib. 

Senin, 08 Maret 2021

Studi Islam, Urgensi, dan Ruang Lingkupnya

Diposting oleh A.Lila di 16.56 0 komentar

    Studi Islam adalah suatu usaha untuk mempelajari hal-hal yang ada kaitannya dengan agama Islam. Metodologi studi Islam sendiri diharapkan mampu  menjadi pedoman dan pegangan hidup bagi umat Islam agar tetap menjadi muslim yang sejati agar mampu melewati tantangan dan tuntutan zaman. 

    Seiring berjalannya waktu, urgensi studi Islam sendiri tidak luput dari problematik umat, yaitu umat Islam masa kini dengan kondisi problematikanya &  umat manusia dan peradabannya yang menyangkut masalah IPTEK. 

Sebenarnya, untuk problematika yang terjadi pada umat Islam sendiri, itu terjadi sudah sejak sekian lama (baik dari faktor eksternal dan internal), yaitu sejak masa Rasulullah SAW dan masa-masa sahabat, tabiin, dan seterusnya. Umat Islam tertinggal dari banyak aspek, baik dari segi ekonomi, sosial, politik, pendidikan, dan lain sebagainya. Lalu, bagaimana cara mengatasi problematika tersebut minimal dari diri sendiri? Yaitu minimal kita harus berpikir bahwasanya Islam tidak melulu berbicara masalah agama yang menyangkut akhirat saja, tapi juga berbicara mengenai aspek-aspek seperti ekonomi, sosial, politik, teknologi, pendidikan, dan seterusnya. Hal ini memang tidak bisa mengubah citra Islam sepenuhnya, tapi menyadari betapa pentingnya hal ini, paling sedikit sudah menerapkan Islam sebagai way of life. 

Sedangkan untuk ruang lingkup studi Islam sendiri, ada tiga:

1. Wilayah praktik keyakinan

2. Teori-teori terhadap wahyu, dan

3. Wilayah substansi Islam

Dari ketiga ruang lingkup di atas, bisa disimpulkan bahwa Islam berperan sebagai doktrin Tuhan yang dapat diterima secara apa adanya oleh pemeluknya, Islam sebagai gejala budaya dan historis berperan dalam pemahaman masyarakat tentang agama mereka, dan Islam sebagai interaksi sosial umat Islam.

Rabu, 03 Maret 2021

Islam sebagai Doktrin dan Islam sebagai Jalan Hidup

Diposting oleh A.Lila di 06.25 0 komentar

     Pada dasarnya, Islam memiliki dua peran, yaitu Islam sebagai doktrin dan Islam sebagai jalan hidup. Namun, Islam sebagai doktin di sini bukanlah merupakan suatu bentuk pendikotomian, akan tetapi berfungsi sebagai klasifikasi pada suatu objek kajian, mana yang perlu dikaji dan mana yang tidak perlu dikaji. 

    Berbicara mengenai Islam sebagai doktrin, doktrin adalah suatu ajaran yang bersifat absolut atau tidak bisa diganggu gugat. Dalam ajaran Islam, memang ada ajaran yang bersifat dinamis (bisa berubah-ubah), akan tetapi juga ada ajaran yang bersidat absolut (tidak bisa diganggu gugat) meskipun zaman selalu berkembang. Dan ajaran yang tidak bisa diganggu gugat inilah yang disebut sebagai doktin. Ada tiga trilogi doktrin Islam, yaitu:

1. Islam

Mencakup tentang rukun Islam 5 yang wajib dikerjakan oleh seorang muslim. Karena sejatinya, Islam di sini adalah suatu perbuatan zahir yang wajib dilakukan seperti syahadat, salat, zakat, puasa, dan menunaikan ibadah haji. Lalu, di mana letak keabsolutannya? Sebagai contoh, Si A yang tinggal di Indonesia hendak melaksanakan salat akan tetapi dia ingin berjamaah dengan imam yang ada di Arab sana. Dia lalu melakukan teleconference agar bisa berjamaah. Waktu isya antara Indonesia dan Arab jelaslah berbeda. Maka dari itu, tidak bisa si A melaksanakan salat berjamaah via teleconference seperti itu. Maka, di sinilah perannya, sebab tidak semua sesuatu itu bisa diganggu gugat.

2. Iman

Jika dalam rukun Islam adalah perbuatan zahir, maka dalam tingkatan ini manusia tidak hanya melakukan perbuatan zahir semata, akan tetapi memakai hati sebagai bentuk keyakinan. Keyakinan terhadap apa saja? Yaitu keyakinan yang tercakup di dalam 6 rukun iman:

  • Iman kepada Allah SWT
  • Iman kepada malaikat
  • Iman kepada kitab-kitab 
  • Iman kepada para rasul
  • Iman kepada hari akhir, dan
  • Iman kepada qada' dan qadar

3. Ihsan

Bagaimanapun, meskipun tidak bisa melihat secara kasat mata, akan tetapi manusia harus meyakini bahwasanya Allah adalah tujuan paling inti dan Dia senantiasa mengetahui apa yang hamba-hamba-Nya perbuat. Manusia harus yakin bahwasanya ketika melakukan hal apapun, tidak luput dari pengawasan-Nya. 

    Setelah berbicara Islam sebagai doktrin, maka selanjutnya adalah Islam sebagai the way of life atau jalan hidup. Islam tidak hanya memandang segala sesuatu dari satu sisi, akan tetapi dari banyak sisi seperti di bidang sosial, ekonomi, politik, budaya, dan yang lainnya. 

Mengutip dari apa yang disampaikan oleh Pak Ahmad Muzakkil Anam M.Pd, I., dosen Metodologi Studi Islam Institut Agama Islam Negeri Surakarta, beliau mengambil kutipan dari salah satu dosen beliau yang berbunyi, "Kanjeng Nabi Muhammad SAW itu jangan dipandang sebagai menteri agama". Maksudnya bagaimana? Peran kanjeng Nabi Muhammad SAW tidak hanya mengurus masalah agama saja, akan tetapi beliau juga mengurusi negara. Tentang bagaimana siasat ekonomi, tidak memperbolehkan riba, syarat sah akad dalam jual beli, dan hal-hal lain yang bersifat duniawi. 

     Kemudian, jika kita hendak menjadikan Islam sebagai the way of life, maka kita juga harus menyesuaikannya dengan kondisi zaman yang selalu berubah-ubah. Ya, tak bisa dipungkiri bahwasanya Al-quran dan hadit sudah selesai berabad-abad silam (tanpa ada penambahan) seiring berjalannya waktu, sedangkan zaman terus berkembang dengan segala problematikanya. Jika manusia tidak bisa menyesuaikannya, akan sangat fatal akibatnya. Seperti contoh, seseorang yang tidak mau melakukan/memakai sesuatu dengan dalih sesuatu itu tidak ada di zaman Kanjeng Nabi SAW lalu dia menghakimi bahwa sesuatu itu bid'ah (sesuatu yang tidak ada di zaman Kanjeng Nabi SAW) dan haram hukumnya. Padahal, bid'ah sendiri terbagi menjadi dua yaitu bid'ah hasanah (yang baik) dan bid'ah dhalalah (yang menyesatkan). Contoh kecil, tanpa adanya bid'ah (khasanah, tentu saja) umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW sekarang tidak akan bisa membaca Al quran yang dulunya hanya Arab gundul, karena pemberian syakal tidak ada di zaman Kanjeng Nabi Muhammad SAW. 

Dari sini bisa kita simpulkan bahwasanya peran studi Islam adalah sebagai jembatan antara teks yang bersifat absolut dan keadaan zaman yang dinamis. Berikut adalah beberapa prinsip Islam sebagai the way of life:

  • Sesuai fitrah
  • Seimbang dunia-akhirat
  • Tidak mempersulit manusia
  • Menyesuaikan IPTEK
  • Orientasi masa depan lebih baik
  • Adil
  • Persamaan derajat

 

Catatan Alila Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review