Minggu, 03 Maret 2024

Navigasi Kedilemaan: Mempercayai atau Menyangkal Kisah Israiliyat?

Diposting oleh A.Lila di 00.43 0 komentar

Sebagai seorang Muslim, beragam kisah Israiliyat acap kali kita jumpai, mulai dari kisah-kisah di dalam Al-Quran hingga kisah yang tersebar mulut ke mulut dari berbagai kajian Islam. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwasanya kisah-kisah Israiliyat bersumber dari kaum Yahudi yang telah masuk Islam pada zaman Rasulullah SAW. Namun, banyak kisah Israiliyat yang kemudian menjadi perdebatan di antara para ulama. Lalu, bagaimana kita sebagai seorang Muslim menyikapinya? 

Sekilas Kemunculan Israiliyat

Kaum Yahudi sendiri dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi dibanding bangsa Arab sebelum Islam datang. Pada tahun 70 M, banyak dari mereka yang tertindas sehingga lari ke Jazirah Arab. Perlu diketahui, bangsa Yahudi memiliki pengetahuan keagamaan dari kitab suci mereka dan hal itu membuat berkembangnya kisah-kisah Israiliyat di Jazirah Arab. Secara tidak langsung, terjadilah pencampuran budaya antara bangsa Arab dan bangsa Yahudi pada masa itu. Dengan kata lain, adanya kisah Israiliyyat merupakan konsekuensi logis dari proses akulturasi budaya dan ilmu pengetahuan antara bangsa Arab Jahiliyah dan Kaum Yahudi serta Nasrani

Sebelumnya, perlu dipahami bahwa pada zaman Rasulullah SAW, kisah-kisah Israiliyyat masih belum berkembang dengan pesat dikarenakan beliau adalah satu-satunya mubayyin (penerang) berbagai masalah yang berkaitan langsung dengan Al-Qur'an. Namun, seiring berkembangnya waktu kisah tersebut terus berkembang pesat, terutama di era para tabiin.

Riwayat Israiliyat pada dasarnya menjadi tantangan sekaligus inspirasi bagi kaum muslimin untuk senantiasa berhati-hati dalam membaca kitab dan menggunakannya sebagai rujukan, agar tetap berpengangan terhadap ruh Al-Qur'an dan selektif terhadap setiap informasi yang disampaikan oleh para pendakwah.

Israiliyat sebagai Salah Satu Sumber Tafsir

Proses periwayatan kisah Israiliyat pada masa tabiin semakin berkembang pesat, bahkan hingga terjadi penafsiran, baik secara selektif maupun tidak selektif. Salah seorang sejarawan dari abad ke-3 Masehi bernama Ibnu Jarir At-Thabari. Beliau adalah seorang intelektual yang berhasil melahirkan mahakarya besar dengan judul "Tafsir At-Thabari" atau disebut sebagai tafsir bil ma’tsur karena sumber penafsirannya banyak diambil dari pendapat para sahabat dan tabi'in. Dalam mahakarya tersebut, At-Thabari juga banyak menukil dari riwayat Israiliyat sebagai sumber penafsirannya. Penafsiran At-Thabari yang menukil kisah Israiliyyat dibagi menjadi 3, berdasarkan kesesuaiannya dengan syariat. 

1. Israiliyat Sesuai Syariat

Ada pun contoh dari penafsiran ini adalah pada kutipan Ibnu Katsir dan Ibnu Jarir dari Kitab At-Thabari (jilid IV), dikisahkan dari Atha’ bin Yasar. Hal ini berkaitan dengan sifat Rasulullah SAW adalah orang terhormat. Bahkan, disebut dalam Kitab Taurat maupun Injil, beliau memiliki sikap lemah lembut, bertabiat santun, dan berbudi bahasa indah. 

Kemudian Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Ali Imran, yang artinya: "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (QS. Ali Imran: 159). 

Ayat tersebut cukup menjelaskan bahwasanya apa yang ada di dalam Taurat tidak bertentangan dengan Al-Qur'an. Tentunya, hal ini juga didukung oleh sebuah riwayat dari Imam Al-Bukhari, sehingga dapat diyakini kebenarannya. 

2. Israiliyyat Tidak Sesuai Syariat

Ada beberapa kisah Israiliyat yang menyimpang dari syariat Islam, salah satunya adalah kisah Nabi Yusuf AS dan Siti Zulaikha. Kisah tentang mereka diabadikan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Yusuf, yang artinya: "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih." (QS Yusuf:  24).

Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Yusuf tidaklah memiliki keinginan yang buruk terhadap Zulaikha meskipun godaan yang datang sangat besar. Dalam situasi ini Allah menyelamatkan  Nabi Yusuf dengan memalingkan keburukan darinya. Namun, muncul cerita yang mengomentari kata “hamma” dalam ayat tersebut sebagai keinginan Nabi Yusuf untuk berzina sama seperti Zulaikha. 


Ilustrasi: Metropolitan Museum of Art, CC0, via Wikimedia Commons

Sebagaimana dalam tafsir At-Thabari, kata “hamma” memperkuat adanya keinginan Nabi Yusuf untuk berzina dengan wanita tersebut. Cerita ini didasarkan pada riwayat yang bersumber dari Abu Kurayb, Sufyān ibn Wakī’, Sahl ibn Musa Al-Rāzi, Ibnu Uyaynah, Usman ibn Abi Sulaymān, Abi Mulaykah dan Ibnu Abbās.

Hal ini tentu saja menuding tuduhan miring kepada Nabi Yusuf AS. Menanggapi hal ini, Imam At-Thabari lebih memilih membahas permasalahan bukti yang nyata pada Nabi Yusuf sehingga tidak terjerumus dalam godaan wanita itu.

3. Israiliyyat Tidak Dihukumi/Didiamkan

Imam At-thabari berkomentar bahwa segala sesuatu yang sifatnya masih global atau umum lebih baik didiamkan, selama masih ada hal lain yang lebih penting. Oleh karena tidak adanya kejelasan, maka hukum baru dianggap belum berlaku.

Dari beberapa contoh kisah Israiliyyat di atas, hendaknya kita menelaah dengan hati-hati, sebagaimana  yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW, "Janganlah kalian mempercayai Ahli Kitab dan jangan (pula) mendustakannya, dan katakanlah ‘Kami beriman kepada Allah dan (Kitab) yang diturunkan kepada Kami'". (HR. Bukhari). Jadi, dalam menyikapi kisah-kisah Israiliyyat, sikap kita sebagai umat Islam hendaknya menempatkan pada posisi netral. Bisa jadi apa yang kita yakini benar ternyata salah, tapi bisa juga yang kita yakini salah ternyata benar. Wallahu a'lam bisshawab. 

Sumber:

Imas, M. (2022). Kajian Israiliyat Dalam Tafsir At-Thabari. HUMANISTIKA: Jurnal Keislaman8(2), 204-230.

Raihanah, R. (2015). ISRAILIYYAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP TAFSIR ALQURAN. Tarbiyah Islamiyah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam5(1).



Sabtu, 02 Maret 2024

Pandangan Filosofis Supernaturalisme ala Dr. Fahruddin Faiz

Diposting oleh A.Lila di 23.07 0 komentar

Setiap manusia pasti memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menyikapi segala yang terjadi di alam semesta dan seisinya. Dalam hal ini, Dr. Fahruddin Faiz mengungkapkan hal yang termasuk di dalamnya adalah tentang konsep supernaturalisme, yaitu suatu keimanan pada hal-hal yang tidak nampak. Manusia beragama pasti memiliki keterbukaan dalam menerima hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran. Beliau menyampaikan sekilas mengenai konsep supernaturalisme dari segi filsafat--yang paling sedikit--mudah dipahami untuk pembelajar awam. 

Antroposentris - Barat Modern

Sebagaimana diketahui mengenai antroposentrisme, paham yang menyatakan bahwa manusia adalah entitas paling penting dari alam semesta dibanding hewan dan makhluk lainnya, atau bisa juga diartikan sebagai ajaran yang menyatakan bahwa pusat semesta adalah manusia. Secara sudut pandang ilmu, antroposentris hanya menerima alam fisik sebagai acuan, tidak serta-merta menerima pada hal gaib. Mengapa demikian? Tentu saja, hal itu dikarenakan ilmu adalah menerima sesuatu secara logic (masuk akal) dan bisa dilihat oleh panca indra. Sudut pandang seperti ini kemudian melahirkan aliran positivisme, di mana pengetahuan itu semata-mata berlandaskan pada ilmu dan pengalaman yang pasti.

Hal tersebut tentulah tidak bisa disangkal karena salah satu tujuan Tuhan menciptakan akal bagi manusia adalah agar bisa berpikir logis, terutama untuk membedakan yang haq dan yang bathil. Namun, apakah kehidupan di dunia ini hanya berdasarkan fakta-fakta atau sesuatu yang jelas tampak oleh mata saja? Tentu tidak. Secara umum, Dr, Fahruddin Faiz memetakan supernatural menurut Thomas Aquinas menjadi 3 jenis:

1. Above Nature, berkaitan dengan Tuhan dan segala sesuatu yang mengatur alam. 

2. Beyond Nature, berkaitan dengan dunia lain seperti dunia jin atau makhluk tak kasat mata lainnya.

3. Against Nature, ada di sekeliling manusia akan tetapi sifatnya di luar hukum alam. 

Ilustrasi: PatoLenin by Pixabay

Supernaturalisme adalah Cara Pandang

Akal pikiran manusia sangatlah terbatas untuk mengakses segala sesuatu yang terjadi di dunia. Untuk memudahkan pemahaman, Dr. Fahruddin Faiz membagi cara pandang menjadi 3 tingkatan sebagai berikut:
1. Naturalisme
Seperti yang telah dipaparkan, naturalisme sama dengan positivisme Barat--alam semesta adalah sesuatu yang dapat dijangkau oleh panca indra. Oleh karena itu, manusia akan berpikir bagaimana cara agar hidup selaras dengan alam. 

2. Supernatural
Segala sesuatu di mana manusia tidak dapat memahami secara natural, hal ini sungguh di luar jangkauan panca indra dan akal pikiran. 

3. Humanisme
Manusia menjadi pusat atau objek terpenting dari alam semesta. Sedangkan, di sini agama dan Tuhan dihadirkan sebagai kesejahteraan demi kebaikan manusia. Bahkan, di sini manusia memiliki hak untuk mempercayai adanya Tuhan atau tidak, tergantung bagaimana sudut pandangnya. 


Dari tiga hal tersebut, supernatural memiliki kedudukan yang tidak mudah untuk diterima oleh manusia. Supernatural sendiri masih dibagi pada dua tingkatan, level rendah dan level tinggi. Ada pun level rendah adalah ketika manusia masih mepercayai adanya jin, takhayul, serta mitos. Hal tersebut masih mudah diterima karena beberapa manusia mungkin pernah mengalaminya. Kedua, supernatural level tinggi membahas tentang alam semesta dan segala isi di dalamnya. Termasuk contoh pada level ini adalah bagaimana Tuhan memberi kekuatan pada manusia yang memiliki karamah; bisa terbang, bisa sujud di atas air, dan lain sebagainya. 


Jadi,  dalam menyikapi fenomena supernatural secara filsafat, manusia perlu memiliki sudut pandang yang berbeda. Maksudnya, sudut pandang tersebut adalah kemampuan untuk menerima segala sesuatu di luar jangkauan logika. Setiap agama akan memiliki interpretasi masing-masing. Sebagai permisalan pada agama Islam, segala sesuatu yang terjadi tidak melulu bisa diukur atau dipertimbangkan secara nalar, karena sejatinya ada Zat Yang Maha Menggerakkan Segala dengan satu kata "kun fayakun" milik-Nya. Terlebih, Al-Qur'an sudah lebih dulu menyebutkan tentang keberadaan dunia yang berlapis-lapis, keberadaan entitas yang tak kasat mata, dan lain sebagainya. Semua ada karena kehendak Allah Ta'ala. Percaya atau tidak, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Wallahu a'lam bisshawab

Sumber:

Dr. Fahruddin Faiz. “Tuhan Maha Penggerak Semua Terjadi Bukan Kebetulan” Youtube, diunggah oleh Ngaji Bebrayan, 6 Februari 2024, https://www.youtube.com/watch?v=T4US7g-1H4o&t=686s

KBBI. 2024. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Online. Available at https://kbbi.web.id/antroposentrisme. [Diakses pada 28 Februari 2024] 

KBBI. 2024. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Online. Available at https://kbbi.web.id/positivisme. [Diakses pada 28 Februari 2024] 


Sabtu, 08 Mei 2021

Pendekatan Pluralistik Religius dalam Studi Islam

Diposting oleh A.Lila di 08.50 1 komentar
    Pada dasarnya, pluralistik religius adalah pemahaman akan adanya kemajemukan di dalam agama.  Mengapa pendekatan ini digunakan juga dalam studi Islam? Sebab, kita harus mengakui bahwa agama Islam ini adalah agama yang paling mudah dibanding agama yang lain. Sebelum ada Islam, kita tahu bahwa sudah ada agama lain yang menguasai (seperti Yahudi, Nasrani, dll). Islam adalah penyempurna dari agama-agama sebelumnya, diyakini karena teorinya paling baru. 

   Hakikat pluralisme pada dasarnya tunggal,dan yang tunggal itu bereksistensi terus tanpa henti dalam melahirkan pluralitas. Pluralisme juga mendorong kebebasan, termasuk kebebasan beragama dan merupakan salah satu pilar demokrasi. Dalam penelitian ilmu agama-agama, setidaknya ada tiga sikap keberagamaan yang dapat disebutkan, yaitu:sikap eksklusivisme, inklusivisme,dan paralelisme.

    Lalu, kenapa pluralistik religius ini perlu dipertimbangkan? Sebab, kita perlu
Contoh, di dalam tafsir At-thobary, di dalam penafsiran satu ayat melibatkan beberapa cerita-cerita Israiliyat. Kemudian di dalam Al Quran sendiri sebenarnya juga banyak diceritakan orang-orang Yahudi, Nasrani. Sehingga, Quran seolah menggambarkan bahwa Islam tidak tercabut akarnya dengan agama-agama sebelumnya. Jadi, sebagai umat Islam, kita menghargai adanya pluralitas di dalam agama. Indonesia memang mayoritas terdiri dari umat Islam, tapi juga banyak orang-orang non-Is yang mana dulu para pahlawan juga turut serta memerdekakan NKRI. Maka, ideologi paling final yang digunakan adalah Pancasila, bukan hukum Islam sebagai sumber utama. Namun, sebagaimana yang masih terjadi hingga kini, banyak kaum-kaum fanatik yang mengobrak-abrik ideologi Pancasila dengan ideologi KH1L4F4H dengan dalih berbagai macam dari sudut pandang kacamata Islam. Ah, padahal Islam sendiri sudah mengatur sedemikian rupa demi kemaslahatan umat bersama, meminimalisir madhorot demi kepentingan bersama pula. 

 

Rabu, 05 Mei 2021

Epistemologi Mistik dan Sufistik (Irfani)

Diposting oleh A.Lila di 18.50 0 komentar

    Epistemologi adalah salah satu cabang filsafat yang membahas tentang hakikat pengetahuan manusia. Epistemologi sendiri ada banyak macamnya, akan tetapi yang akan dibahas pada pertemuan kali ini adalah epistemologi mistik (yang berkaitan dengan hal gaib) dan sufistik (berkaitan dengan makrifat). 

    Epistemologi Mistik dibagi menjadi dua,yaitu mistik biasa dan mistik magis. Masing-masing tersebut memiliki cara kerja yang berbeda.

Mistik biasa di dalam Islam disebut Tasawwuf. Mistik jenis ini tidak berkaitan dengan kekuatan tertentu karena berasal dari Tuhan. Biasanya, cara untuk memperolehnya adalah dengan tawakkal (bisa berupa tirakat atau hal-hal yang lain yang mendekatkan diri kepada Allah SWT). 

Selanjutnya adalah mistik magis, mistik yang berkaitan dengan kekuatan tertentu. Ada 2 jenis mistik magis, yaitu mistik magis putih dan mistik magis hitam. Sebagaimana kita sudah ketahui pada umumnya, mistik magis putih berkaitan dengan kekuatan Ilahiyah ketika manusia memperbanyak wirid, tirakat, dan doa. Sedangkan mistik magis hitam, berpartisipasi dengan jin-jin kafir.

    Selanjutnya adalah Epistemologi Irfani (sufistik). Dalam kalangan sufial, irfan berarti al-kasyf dan al-ilham. Dilihat dari segi maknanya, dapat dilihat bahwasannya sistem pengetahuan irfani adalah sebuah sistem pengetahuan di mana sumber pengetahuannya adalah intuisi. Suatu pengetahuan diperoleh secara langsung tanpa perantara dan proses pembuktian. Ada beberapa tahapan untuk memperoleh pengetahuan irfani yaitu melalui persiapan, penerimaan, dan pengungkapan. Selainitu,di tengah kondisi zaman yang semakin modern, tidak menutup masyarakat untuk tetap mempercayai hal-hal yang berkaitan dengan  mistis/mitos. Salah satucontoh mitos yang paling dekat dalam kehidupan kita yaitu adanya kepercayaan atau mitos dalam masyarakat Bugis Makasar yang sederhana. Misalnya adalah dilarangnya seseorang untuk duduk di atas bantal karena akan mengakibatkan kebisulan.

Rabu, 28 April 2021

Fenomenologi dalam Pendekatan Studi Islam

Diposting oleh A.Lila di 08.06 0 komentar

    Dalam bahasa Yunani, fenomenologi berasal dari kata phaenesthai yang berarti menunjukkan dirinya sendiri. Pendekatan metodologi sendiri memiliki karakteristik yang kuat yaitu bisa memahami agama orang lain dalam perspektif netralitas dan menggunakan preferensi orang yang bersangkutan (untuk melakukan epoche). 

 Secara sederhana, fenomenologi adalah suatu gejala yang menampakkan diri pada kesadaran manusia. Cara gampangnya begini, ada suatu fenomena lalu manusia menangkap fenomena tersebut (yang mana membicarakan fenomena sehari-hari dan manusia bisa menyadarinya). Berkaitan dengan itu, ada tiga aspek yang berkaitan dengan fenomenologi yaitu:

1. Burhani (logika/rasio)

-Ada penafsiran berupa perpaduan bayani-burhani

-Penafsiran burhani murni

2. Bayani (tekstual = Al quran dan hadits)

3. Irfani (hati)

Dari tiga tingkatan di atas, sejatinya irfani lebih tinggi dari rasio. Karena hati sudah masuk ke ranah olah rasa (tidak sekadar berbicara tentang baik-buruk). 

    Berikut adalah contoh dari fenomenologi. Ada seseorang yang tersenyum kepada kita, lalu kesadaran kita langsung memberi respon, misal "Oh, dia tersenyum untuk menyapa." Atau bisa jadi malah kesadaran itu merespon, "Wah, kenapa dia tersenyum kepadaku? Jangan-jangan...", atau lain lagi, "Heh? Adakah yang aneh dalam diriku?" Hal ini menunjukkan bahwa betapa manusia itu memiliki kesadaran yang berbeda satu sama lain. 


Jumat, 16 April 2021

Psikologi sebagai Pendekatan Keislaman

Diposting oleh A.Lila di 20.57 0 komentar

    Di dalam mengkaji suatu permasalahan/ fenomena baru keislaman di dalam dunia modern, kita hendaknya juga harus memerhatikan aspek sosial. Bagaimanapun, kita harus mengingat bahwasanya dimensi manusia ada 2: abdullah dan khalifatullah. Dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang psikologi yang mana masuk dalam ranah ilmu sosial (meski pada dasarnya isinya tentang ilmu personal). Lalu, apa hubungan psikologi dengan studi Islam?

    Dalam menentukan suatu hukum, manusia dituntut untuk memerhatikan interaksi sosial, memerhatikan kebudayaan serta sejarahnya. Pun dalam menentukan suatu hukum, juga harus memerhatikan aspek psikologi. Penerapan psikologi dalam studi Islam, sudah ada sejak zaman Kanjeng Nabi SAW, bahkan oleh beliau sendiri. 

Ada suatu contoh. Suatu hari, datanglah seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi SAW, "Wahai Nabi, amalan apa yang paling baik?" Lalu Nabi SAW menjawab, "birrul walidayn."

Sahabat lain bertanya kepada Nabi di waktu yang lain, "Nabi, amalan apa yang paling baik?" Beliau menjawab, "sodaqoh."

Kemudian ada lagi sahabat lain yang bertanya, "Amalan apa yang paling baik, wahai Nabi? Tolong berikan kepada Saya nasihat yang paling baik." Beliau menjawab, "La taghdob wa lakal jannah." 

Dari tiga pertanyaan di atas, bisa kita simpulkan bahwasanya dalam 3 pertanyaan yang sama mempunyai 3 jawaban yang berbeda. Jika dikaji, terdapat unsur psikologi dalama jawaban Nabi yang berbeda-beda tadi. Bagaimana alasannya?
Ketika Nabi mengetahui bahwa seorang sahabat yang pertama tidak terlalu berbakti kepada orangtua, maka jawaban beliau mengarah kepada birrul walidayn, yang dituju secara tersirat adalah psikis sahabat yang bertanya kala itu. 

    Setiap jiwa memiliki kejiwaaan yang berbeda-beda. Sehingga agama menentukan hukum ataupun kewajiban juga berbeda sesuai dengan tingkatannya. Seperti contoh, seorang anak kecil yang tingkat keimanannya belum matang, maka ia tidak dikenai kewajiban untuk shalat 5 waktu sebagaimana yang sudah baligh. 

    Ada suatu contoh yang lebih menarik lagi mengenai aspek psikis yang harus diperhatikan dalam berdakwah. Tak jarang bagi kita mendengar slogan back to quran & sunnah yang sudah melalang buana ke beberapa penjuru dunia. Ya, memang benar bahwa segala sesuatu harus dikembalikan kepada al quran dan hadits. Namun, bagaimana ketika kita berdakwah di lingkungan pedalaman yang notabene orang-orangnya masih sangat awam? Oh, tentu sang pendakwah akan mendapat kesulitan. Bagi orang-orang yang awam, mereka tidak bisa langsung disetir untuk kembali ke al quran dan hadits. Karena jangankan kembali ke al quran dan hadits, membaca al quran saja belum tentu mereka mampu. Lalu, bagaimana caranya? Menggunakan metode dakwah yang bisa diterima oleh masyarakat dengan mudah, seperti yang telah dilakukan oleh para wali. Tidak dipungkiri bahwa segala sesuatu harus dikembalikan kepada al quran dan hadits, tapi beberapa hal tidak melulu harus selalu tertuju pada al quran dan hadits. 

    Jadi, kesimpulannya, ketika kita menentukan suatu hukum dan menyampaikan suatu kajian keislaman kepada masyarakat, kita harus melihat sisi psikologi masyarakat yang ada/individu yang sedang dihadapi.   

Sabtu, 10 April 2021

Pendekatan Sosiologi dalam Studi Islam

Diposting oleh A.Lila di 06.39 0 komentar

 Sosiologi merupakan gabungan dua kata dari Bahasa Latin dan Yunani, yakni socius yang berarti kawan dalam bahasa Latin, sedangkan logos bermakna ilmu pengetahuan dalam bahasa Yunani. Jadi, secara harafiah sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pola perilaku manusia dalam bermasyarakat. Adapun pengertian Sosiologi Menurut para ahl:

a) Auguste Comte Sebagai pencetus konsep sosiologi, mendefinisikan sosiologi sebagai ilmu positif. Artinya sosiologi bekerja mempelajari gejala-gejala social dalam masyarakat berlandaskan pada logika rasional dan ilmiah

b) Émile Durkheim Mengartikan sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji fakta dan institusi social dalam berbagai tatanan masyarakat. Dari kumpulan fakta terkait cara berpikir dan bertindak tersebut, Durkheim meyakin ia dan ya kekuatan untuk mengendalikan individu

c) Karl Marx Marx tidak secara eksplisit mendefinisikan sosiologi, tetapi dalam The Communist Manifesto meyakini bahwa masyarakat (proletar) perlu dibebaskan dari system kapitalis. Sosiologi dipercaya dapat melawan penindasan dan melahirkan masyarakat tanpa kelas.

    Sebagai ilmu pengetahuan murni, sosiologi memiliki 4ciri utama, yaitu:

1. Empiris Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi didasarkan pada realitas sosial yang terjadi di lapangan dan tidak bersifat spekulatif

2. Teoritis Selalu berusaha Menyusun abstraksi berupa kesimpulan mengenai hubungan sebabakibat dari gejala sosial yang diteliti berdasarkan hasil pengamatan empiris

3. Kumulatif Dalam membangun argument terkait suatu fenomena tertentu harus dilandaskan pada kumpulan teori yang sudah tercipta sebelumnya

4. Non-etis Sosiologi ada tidak untuk menilai baik dan buruk suatu permasalahan, melainkan pada penjelasan logis terkait latar belakang terjadinya suatu fenomena tertentu.

    Perspektif utama sosiologi dibagi menjadi tiga yaitu perspektif fungsional, perspektif konflik, dan perspektif simbolik. Sedangkan dalam tingkatan pendekatannya, sosiologis dibagi menjadi tiga yaitu pertama tingkatan teologi, tingakatan kedua  metafisika, dan tingkatan ketiga adalah tingkatan positif.

 

Catatan Alila Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review