Sebagai seorang Muslim, beragam kisah Israiliyat acap kali kita jumpai, mulai dari kisah-kisah di dalam Al-Quran hingga kisah yang tersebar mulut ke mulut dari berbagai kajian Islam. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwasanya kisah-kisah Israiliyat bersumber dari kaum Yahudi yang telah masuk Islam pada zaman Rasulullah SAW. Namun, banyak kisah Israiliyat yang kemudian menjadi perdebatan di antara para ulama. Lalu, bagaimana kita sebagai seorang Muslim menyikapinya?
Sekilas Kemunculan Israiliyat
Kaum Yahudi sendiri dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi dibanding bangsa Arab sebelum Islam datang. Pada tahun 70 M, banyak dari mereka yang tertindas sehingga lari ke Jazirah Arab. Perlu diketahui, bangsa Yahudi memiliki pengetahuan keagamaan dari kitab suci mereka dan hal itu membuat berkembangnya kisah-kisah Israiliyat di Jazirah Arab. Secara tidak langsung, terjadilah pencampuran budaya antara bangsa Arab dan bangsa Yahudi pada masa itu. Dengan kata lain, adanya kisah Israiliyyat merupakan konsekuensi logis dari proses akulturasi budaya dan ilmu pengetahuan antara bangsa Arab Jahiliyah dan Kaum Yahudi serta Nasrani
Sebelumnya, perlu dipahami bahwa pada zaman Rasulullah SAW, kisah-kisah Israiliyyat masih belum berkembang dengan pesat dikarenakan beliau adalah satu-satunya mubayyin (penerang) berbagai masalah yang berkaitan langsung dengan Al-Qur'an. Namun, seiring berkembangnya waktu kisah tersebut terus berkembang pesat, terutama di era para tabiin.
Riwayat Israiliyat pada dasarnya menjadi tantangan sekaligus inspirasi bagi kaum muslimin untuk senantiasa berhati-hati dalam membaca kitab dan menggunakannya sebagai rujukan, agar tetap berpengangan terhadap ruh Al-Qur'an dan selektif terhadap setiap informasi yang disampaikan oleh para pendakwah.
Israiliyat sebagai Salah Satu Sumber Tafsir
Proses periwayatan kisah Israiliyat pada masa tabiin semakin berkembang pesat, bahkan hingga terjadi penafsiran, baik secara selektif maupun tidak selektif. Salah seorang sejarawan dari abad ke-3 Masehi bernama Ibnu Jarir At-Thabari. Beliau adalah seorang intelektual yang berhasil melahirkan mahakarya besar dengan judul "Tafsir At-Thabari" atau disebut sebagai tafsir bil ma’tsur karena sumber penafsirannya banyak diambil dari pendapat para sahabat dan tabi'in. Dalam mahakarya tersebut, At-Thabari juga banyak menukil dari riwayat Israiliyat sebagai sumber penafsirannya. Penafsiran At-Thabari yang menukil kisah Israiliyyat dibagi menjadi 3, berdasarkan kesesuaiannya dengan syariat.
1. Israiliyat Sesuai Syariat
Ada pun contoh dari penafsiran ini adalah pada kutipan Ibnu Katsir dan Ibnu Jarir dari Kitab At-Thabari (jilid IV), dikisahkan dari Atha’ bin Yasar. Hal ini berkaitan dengan sifat Rasulullah SAW adalah orang terhormat. Bahkan, disebut dalam Kitab Taurat maupun Injil, beliau memiliki sikap lemah lembut, bertabiat santun, dan berbudi bahasa indah.
Kemudian Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Ali Imran, yang artinya: "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (QS. Ali Imran: 159).
Ayat tersebut cukup menjelaskan bahwasanya apa yang ada di dalam Taurat tidak bertentangan dengan Al-Qur'an. Tentunya, hal ini juga didukung oleh sebuah riwayat dari Imam Al-Bukhari, sehingga dapat diyakini kebenarannya.
2. Israiliyyat Tidak Sesuai Syariat
Ada beberapa kisah Israiliyat yang menyimpang dari syariat Islam, salah satunya adalah kisah Nabi Yusuf AS dan Siti Zulaikha. Kisah tentang mereka diabadikan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Yusuf, yang artinya: "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih." (QS Yusuf: 24).
Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Yusuf tidaklah memiliki keinginan yang buruk terhadap Zulaikha meskipun godaan yang datang sangat besar. Dalam situasi ini Allah menyelamatkan Nabi Yusuf dengan memalingkan keburukan darinya. Namun, muncul cerita yang mengomentari kata “hamma” dalam ayat tersebut sebagai keinginan Nabi Yusuf untuk berzina sama seperti Zulaikha.
Ilustrasi: Metropolitan Museum of Art, CC0, via Wikimedia Commons
Sebagaimana dalam tafsir At-Thabari, kata “hamma” memperkuat adanya keinginan Nabi Yusuf untuk berzina dengan wanita tersebut. Cerita ini didasarkan pada riwayat yang bersumber dari Abu Kurayb, Sufyān ibn Wakī’, Sahl ibn Musa Al-Rāzi, Ibnu Uyaynah, Usman ibn Abi Sulaymān, Abi Mulaykah dan Ibnu Abbās.
Hal ini tentu saja menuding tuduhan miring kepada Nabi Yusuf AS. Menanggapi hal ini, Imam At-Thabari lebih memilih membahas permasalahan bukti yang nyata pada Nabi Yusuf sehingga tidak terjerumus dalam godaan wanita itu.
3. Israiliyyat Tidak Dihukumi/Didiamkan
Imam At-thabari berkomentar bahwa segala sesuatu yang sifatnya masih global atau umum lebih baik didiamkan, selama masih ada hal lain yang lebih penting. Oleh karena tidak adanya kejelasan, maka hukum baru dianggap belum berlaku.
Dari beberapa contoh kisah Israiliyyat di atas, hendaknya kita menelaah dengan hati-hati, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW, "Janganlah kalian mempercayai Ahli Kitab dan jangan (pula) mendustakannya, dan katakanlah ‘Kami beriman kepada Allah dan (Kitab) yang diturunkan kepada Kami'". (HR. Bukhari). Jadi, dalam menyikapi kisah-kisah Israiliyyat, sikap kita sebagai umat Islam hendaknya menempatkan pada posisi netral. Bisa jadi apa yang kita yakini benar ternyata salah, tapi bisa juga yang kita yakini salah ternyata benar. Wallahu a'lam bisshawab.
Sumber:
Imas, M. (2022). Kajian Israiliyat Dalam Tafsir At-Thabari. HUMANISTIKA: Jurnal Keislaman, 8(2), 204-230.
Raihanah, R. (2015). ISRAILIYYAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP TAFSIR ALQURAN. Tarbiyah Islamiyah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam, 5(1).