Rabu, 28 April 2021

Fenomenologi dalam Pendekatan Studi Islam

Diposting oleh A.Lila di 08.06 0 komentar

    Dalam bahasa Yunani, fenomenologi berasal dari kata phaenesthai yang berarti menunjukkan dirinya sendiri. Pendekatan metodologi sendiri memiliki karakteristik yang kuat yaitu bisa memahami agama orang lain dalam perspektif netralitas dan menggunakan preferensi orang yang bersangkutan (untuk melakukan epoche). 

 Secara sederhana, fenomenologi adalah suatu gejala yang menampakkan diri pada kesadaran manusia. Cara gampangnya begini, ada suatu fenomena lalu manusia menangkap fenomena tersebut (yang mana membicarakan fenomena sehari-hari dan manusia bisa menyadarinya). Berkaitan dengan itu, ada tiga aspek yang berkaitan dengan fenomenologi yaitu:

1. Burhani (logika/rasio)

-Ada penafsiran berupa perpaduan bayani-burhani

-Penafsiran burhani murni

2. Bayani (tekstual = Al quran dan hadits)

3. Irfani (hati)

Dari tiga tingkatan di atas, sejatinya irfani lebih tinggi dari rasio. Karena hati sudah masuk ke ranah olah rasa (tidak sekadar berbicara tentang baik-buruk). 

    Berikut adalah contoh dari fenomenologi. Ada seseorang yang tersenyum kepada kita, lalu kesadaran kita langsung memberi respon, misal "Oh, dia tersenyum untuk menyapa." Atau bisa jadi malah kesadaran itu merespon, "Wah, kenapa dia tersenyum kepadaku? Jangan-jangan...", atau lain lagi, "Heh? Adakah yang aneh dalam diriku?" Hal ini menunjukkan bahwa betapa manusia itu memiliki kesadaran yang berbeda satu sama lain. 


Jumat, 16 April 2021

Psikologi sebagai Pendekatan Keislaman

Diposting oleh A.Lila di 20.57 0 komentar

    Di dalam mengkaji suatu permasalahan/ fenomena baru keislaman di dalam dunia modern, kita hendaknya juga harus memerhatikan aspek sosial. Bagaimanapun, kita harus mengingat bahwasanya dimensi manusia ada 2: abdullah dan khalifatullah. Dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang psikologi yang mana masuk dalam ranah ilmu sosial (meski pada dasarnya isinya tentang ilmu personal). Lalu, apa hubungan psikologi dengan studi Islam?

    Dalam menentukan suatu hukum, manusia dituntut untuk memerhatikan interaksi sosial, memerhatikan kebudayaan serta sejarahnya. Pun dalam menentukan suatu hukum, juga harus memerhatikan aspek psikologi. Penerapan psikologi dalam studi Islam, sudah ada sejak zaman Kanjeng Nabi SAW, bahkan oleh beliau sendiri. 

Ada suatu contoh. Suatu hari, datanglah seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi SAW, "Wahai Nabi, amalan apa yang paling baik?" Lalu Nabi SAW menjawab, "birrul walidayn."

Sahabat lain bertanya kepada Nabi di waktu yang lain, "Nabi, amalan apa yang paling baik?" Beliau menjawab, "sodaqoh."

Kemudian ada lagi sahabat lain yang bertanya, "Amalan apa yang paling baik, wahai Nabi? Tolong berikan kepada Saya nasihat yang paling baik." Beliau menjawab, "La taghdob wa lakal jannah." 

Dari tiga pertanyaan di atas, bisa kita simpulkan bahwasanya dalam 3 pertanyaan yang sama mempunyai 3 jawaban yang berbeda. Jika dikaji, terdapat unsur psikologi dalama jawaban Nabi yang berbeda-beda tadi. Bagaimana alasannya?
Ketika Nabi mengetahui bahwa seorang sahabat yang pertama tidak terlalu berbakti kepada orangtua, maka jawaban beliau mengarah kepada birrul walidayn, yang dituju secara tersirat adalah psikis sahabat yang bertanya kala itu. 

    Setiap jiwa memiliki kejiwaaan yang berbeda-beda. Sehingga agama menentukan hukum ataupun kewajiban juga berbeda sesuai dengan tingkatannya. Seperti contoh, seorang anak kecil yang tingkat keimanannya belum matang, maka ia tidak dikenai kewajiban untuk shalat 5 waktu sebagaimana yang sudah baligh. 

    Ada suatu contoh yang lebih menarik lagi mengenai aspek psikis yang harus diperhatikan dalam berdakwah. Tak jarang bagi kita mendengar slogan back to quran & sunnah yang sudah melalang buana ke beberapa penjuru dunia. Ya, memang benar bahwa segala sesuatu harus dikembalikan kepada al quran dan hadits. Namun, bagaimana ketika kita berdakwah di lingkungan pedalaman yang notabene orang-orangnya masih sangat awam? Oh, tentu sang pendakwah akan mendapat kesulitan. Bagi orang-orang yang awam, mereka tidak bisa langsung disetir untuk kembali ke al quran dan hadits. Karena jangankan kembali ke al quran dan hadits, membaca al quran saja belum tentu mereka mampu. Lalu, bagaimana caranya? Menggunakan metode dakwah yang bisa diterima oleh masyarakat dengan mudah, seperti yang telah dilakukan oleh para wali. Tidak dipungkiri bahwa segala sesuatu harus dikembalikan kepada al quran dan hadits, tapi beberapa hal tidak melulu harus selalu tertuju pada al quran dan hadits. 

    Jadi, kesimpulannya, ketika kita menentukan suatu hukum dan menyampaikan suatu kajian keislaman kepada masyarakat, kita harus melihat sisi psikologi masyarakat yang ada/individu yang sedang dihadapi.   

Sabtu, 10 April 2021

Pendekatan Sosiologi dalam Studi Islam

Diposting oleh A.Lila di 06.39 0 komentar

 Sosiologi merupakan gabungan dua kata dari Bahasa Latin dan Yunani, yakni socius yang berarti kawan dalam bahasa Latin, sedangkan logos bermakna ilmu pengetahuan dalam bahasa Yunani. Jadi, secara harafiah sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pola perilaku manusia dalam bermasyarakat. Adapun pengertian Sosiologi Menurut para ahl:

a) Auguste Comte Sebagai pencetus konsep sosiologi, mendefinisikan sosiologi sebagai ilmu positif. Artinya sosiologi bekerja mempelajari gejala-gejala social dalam masyarakat berlandaskan pada logika rasional dan ilmiah

b) Émile Durkheim Mengartikan sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji fakta dan institusi social dalam berbagai tatanan masyarakat. Dari kumpulan fakta terkait cara berpikir dan bertindak tersebut, Durkheim meyakin ia dan ya kekuatan untuk mengendalikan individu

c) Karl Marx Marx tidak secara eksplisit mendefinisikan sosiologi, tetapi dalam The Communist Manifesto meyakini bahwa masyarakat (proletar) perlu dibebaskan dari system kapitalis. Sosiologi dipercaya dapat melawan penindasan dan melahirkan masyarakat tanpa kelas.

    Sebagai ilmu pengetahuan murni, sosiologi memiliki 4ciri utama, yaitu:

1. Empiris Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi didasarkan pada realitas sosial yang terjadi di lapangan dan tidak bersifat spekulatif

2. Teoritis Selalu berusaha Menyusun abstraksi berupa kesimpulan mengenai hubungan sebabakibat dari gejala sosial yang diteliti berdasarkan hasil pengamatan empiris

3. Kumulatif Dalam membangun argument terkait suatu fenomena tertentu harus dilandaskan pada kumpulan teori yang sudah tercipta sebelumnya

4. Non-etis Sosiologi ada tidak untuk menilai baik dan buruk suatu permasalahan, melainkan pada penjelasan logis terkait latar belakang terjadinya suatu fenomena tertentu.

    Perspektif utama sosiologi dibagi menjadi tiga yaitu perspektif fungsional, perspektif konflik, dan perspektif simbolik. Sedangkan dalam tingkatan pendekatannya, sosiologis dibagi menjadi tiga yaitu pertama tingkatan teologi, tingakatan kedua  metafisika, dan tingkatan ketiga adalah tingkatan positif.

Selasa, 06 April 2021

Kajian Antropologi dalam Hubungan Islam dan Budaya

Diposting oleh A.Lila di 22.15 0 komentar

    Pada dasarnya antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia, mulai dari ciri fisik, asal-usul, hingga sosial dan kebudayaan manusia. Objek kajian antropologi adalah manusia. Dalam perkembangannya, antropologi terbagi menjadi empat fase, yaitu:

(1) sekitar tahun 1800

(2) pada pertengahan abad ke-19

(3) pada permulaan abad ke-20, dan

(4) sesudah tahun 1930.

Adapun secara garis besar antropologi terbagi menjadi dua; antropologi fisik, yang lebih menekankan aspek fisik dalam diri manusia, dan antropologi budaya, yang mempelajari tentang kebudayaan manusia. Agama dapat dikatakan sebagai sarana manusia untuk mengatasi masalah yang dihadapinya yang dilakukan melalui upacara keagamaan. Agama juga dipahami sebagai kepercayaan dan pola perilaku untuk mengendalikan alam. Sehingga agama menjadi bagian dari kebudayaan yang ada diseluruh dunia. Agama merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat. Sehingga dapat disimpulkan bila agama dan kebudayaan adalah dua hal yang berkaitan, dimana budaya muncul sebagai hasil dari perilaku manusia yang beragama.

    Pembauran merupakan suatu proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dengan latar kebudayaan yang berbeda. Setelah mereka bergaul dengan intensif, sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan masing-masing berubah menjadi unsur kebudaayaan campuran. ajaran Islam telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan akal pikiran manusia serta sosial budayanya untuk mewujudkan suatu sosial budaya dan masyarakat yang Islami. Pembauran dalam perspektif Islam sangatlah urgen, sebab pembauran dapat dijadikan sebagai lahan bagi manusia Islam untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah serta sebagai lahan bagi manusia tersebut untuk meningkatkan pundi-pundi amal baiknya.

 

Catatan Alila Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review