Minggu, 03 Maret 2024

Navigasi Kedilemaan: Mempercayai atau Menyangkal Kisah Israiliyat?

Diposting oleh A.Lila di 00.43 0 komentar

Sebagai seorang Muslim, beragam kisah Israiliyat acap kali kita jumpai, mulai dari kisah-kisah di dalam Al-Quran hingga kisah yang tersebar mulut ke mulut dari berbagai kajian Islam. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwasanya kisah-kisah Israiliyat bersumber dari kaum Yahudi yang telah masuk Islam pada zaman Rasulullah SAW. Namun, banyak kisah Israiliyat yang kemudian menjadi perdebatan di antara para ulama. Lalu, bagaimana kita sebagai seorang Muslim menyikapinya? 

Sekilas Kemunculan Israiliyat

Kaum Yahudi sendiri dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi dibanding bangsa Arab sebelum Islam datang. Pada tahun 70 M, banyak dari mereka yang tertindas sehingga lari ke Jazirah Arab. Perlu diketahui, bangsa Yahudi memiliki pengetahuan keagamaan dari kitab suci mereka dan hal itu membuat berkembangnya kisah-kisah Israiliyat di Jazirah Arab. Secara tidak langsung, terjadilah pencampuran budaya antara bangsa Arab dan bangsa Yahudi pada masa itu. Dengan kata lain, adanya kisah Israiliyyat merupakan konsekuensi logis dari proses akulturasi budaya dan ilmu pengetahuan antara bangsa Arab Jahiliyah dan Kaum Yahudi serta Nasrani

Sebelumnya, perlu dipahami bahwa pada zaman Rasulullah SAW, kisah-kisah Israiliyyat masih belum berkembang dengan pesat dikarenakan beliau adalah satu-satunya mubayyin (penerang) berbagai masalah yang berkaitan langsung dengan Al-Qur'an. Namun, seiring berkembangnya waktu kisah tersebut terus berkembang pesat, terutama di era para tabiin.

Riwayat Israiliyat pada dasarnya menjadi tantangan sekaligus inspirasi bagi kaum muslimin untuk senantiasa berhati-hati dalam membaca kitab dan menggunakannya sebagai rujukan, agar tetap berpengangan terhadap ruh Al-Qur'an dan selektif terhadap setiap informasi yang disampaikan oleh para pendakwah.

Israiliyat sebagai Salah Satu Sumber Tafsir

Proses periwayatan kisah Israiliyat pada masa tabiin semakin berkembang pesat, bahkan hingga terjadi penafsiran, baik secara selektif maupun tidak selektif. Salah seorang sejarawan dari abad ke-3 Masehi bernama Ibnu Jarir At-Thabari. Beliau adalah seorang intelektual yang berhasil melahirkan mahakarya besar dengan judul "Tafsir At-Thabari" atau disebut sebagai tafsir bil ma’tsur karena sumber penafsirannya banyak diambil dari pendapat para sahabat dan tabi'in. Dalam mahakarya tersebut, At-Thabari juga banyak menukil dari riwayat Israiliyat sebagai sumber penafsirannya. Penafsiran At-Thabari yang menukil kisah Israiliyyat dibagi menjadi 3, berdasarkan kesesuaiannya dengan syariat. 

1. Israiliyat Sesuai Syariat

Ada pun contoh dari penafsiran ini adalah pada kutipan Ibnu Katsir dan Ibnu Jarir dari Kitab At-Thabari (jilid IV), dikisahkan dari Atha’ bin Yasar. Hal ini berkaitan dengan sifat Rasulullah SAW adalah orang terhormat. Bahkan, disebut dalam Kitab Taurat maupun Injil, beliau memiliki sikap lemah lembut, bertabiat santun, dan berbudi bahasa indah. 

Kemudian Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Ali Imran, yang artinya: "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (QS. Ali Imran: 159). 

Ayat tersebut cukup menjelaskan bahwasanya apa yang ada di dalam Taurat tidak bertentangan dengan Al-Qur'an. Tentunya, hal ini juga didukung oleh sebuah riwayat dari Imam Al-Bukhari, sehingga dapat diyakini kebenarannya. 

2. Israiliyyat Tidak Sesuai Syariat

Ada beberapa kisah Israiliyat yang menyimpang dari syariat Islam, salah satunya adalah kisah Nabi Yusuf AS dan Siti Zulaikha. Kisah tentang mereka diabadikan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Yusuf, yang artinya: "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih." (QS Yusuf:  24).

Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Yusuf tidaklah memiliki keinginan yang buruk terhadap Zulaikha meskipun godaan yang datang sangat besar. Dalam situasi ini Allah menyelamatkan  Nabi Yusuf dengan memalingkan keburukan darinya. Namun, muncul cerita yang mengomentari kata “hamma” dalam ayat tersebut sebagai keinginan Nabi Yusuf untuk berzina sama seperti Zulaikha. 


Ilustrasi: Metropolitan Museum of Art, CC0, via Wikimedia Commons

Sebagaimana dalam tafsir At-Thabari, kata “hamma” memperkuat adanya keinginan Nabi Yusuf untuk berzina dengan wanita tersebut. Cerita ini didasarkan pada riwayat yang bersumber dari Abu Kurayb, Sufyān ibn Wakī’, Sahl ibn Musa Al-Rāzi, Ibnu Uyaynah, Usman ibn Abi Sulaymān, Abi Mulaykah dan Ibnu Abbās.

Hal ini tentu saja menuding tuduhan miring kepada Nabi Yusuf AS. Menanggapi hal ini, Imam At-Thabari lebih memilih membahas permasalahan bukti yang nyata pada Nabi Yusuf sehingga tidak terjerumus dalam godaan wanita itu.

3. Israiliyyat Tidak Dihukumi/Didiamkan

Imam At-thabari berkomentar bahwa segala sesuatu yang sifatnya masih global atau umum lebih baik didiamkan, selama masih ada hal lain yang lebih penting. Oleh karena tidak adanya kejelasan, maka hukum baru dianggap belum berlaku.

Dari beberapa contoh kisah Israiliyyat di atas, hendaknya kita menelaah dengan hati-hati, sebagaimana  yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW, "Janganlah kalian mempercayai Ahli Kitab dan jangan (pula) mendustakannya, dan katakanlah ‘Kami beriman kepada Allah dan (Kitab) yang diturunkan kepada Kami'". (HR. Bukhari). Jadi, dalam menyikapi kisah-kisah Israiliyyat, sikap kita sebagai umat Islam hendaknya menempatkan pada posisi netral. Bisa jadi apa yang kita yakini benar ternyata salah, tapi bisa juga yang kita yakini salah ternyata benar. Wallahu a'lam bisshawab. 

Sumber:

Imas, M. (2022). Kajian Israiliyat Dalam Tafsir At-Thabari. HUMANISTIKA: Jurnal Keislaman8(2), 204-230.

Raihanah, R. (2015). ISRAILIYYAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP TAFSIR ALQURAN. Tarbiyah Islamiyah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam5(1).



Sabtu, 02 Maret 2024

Pandangan Filosofis Supernaturalisme ala Dr. Fahruddin Faiz

Diposting oleh A.Lila di 23.07 0 komentar

Setiap manusia pasti memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menyikapi segala yang terjadi di alam semesta dan seisinya. Dalam hal ini, Dr. Fahruddin Faiz mengungkapkan hal yang termasuk di dalamnya adalah tentang konsep supernaturalisme, yaitu suatu keimanan pada hal-hal yang tidak nampak. Manusia beragama pasti memiliki keterbukaan dalam menerima hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran. Beliau menyampaikan sekilas mengenai konsep supernaturalisme dari segi filsafat--yang paling sedikit--mudah dipahami untuk pembelajar awam. 

Antroposentris - Barat Modern

Sebagaimana diketahui mengenai antroposentrisme, paham yang menyatakan bahwa manusia adalah entitas paling penting dari alam semesta dibanding hewan dan makhluk lainnya, atau bisa juga diartikan sebagai ajaran yang menyatakan bahwa pusat semesta adalah manusia. Secara sudut pandang ilmu, antroposentris hanya menerima alam fisik sebagai acuan, tidak serta-merta menerima pada hal gaib. Mengapa demikian? Tentu saja, hal itu dikarenakan ilmu adalah menerima sesuatu secara logic (masuk akal) dan bisa dilihat oleh panca indra. Sudut pandang seperti ini kemudian melahirkan aliran positivisme, di mana pengetahuan itu semata-mata berlandaskan pada ilmu dan pengalaman yang pasti.

Hal tersebut tentulah tidak bisa disangkal karena salah satu tujuan Tuhan menciptakan akal bagi manusia adalah agar bisa berpikir logis, terutama untuk membedakan yang haq dan yang bathil. Namun, apakah kehidupan di dunia ini hanya berdasarkan fakta-fakta atau sesuatu yang jelas tampak oleh mata saja? Tentu tidak. Secara umum, Dr, Fahruddin Faiz memetakan supernatural menurut Thomas Aquinas menjadi 3 jenis:

1. Above Nature, berkaitan dengan Tuhan dan segala sesuatu yang mengatur alam. 

2. Beyond Nature, berkaitan dengan dunia lain seperti dunia jin atau makhluk tak kasat mata lainnya.

3. Against Nature, ada di sekeliling manusia akan tetapi sifatnya di luar hukum alam. 

Ilustrasi: PatoLenin by Pixabay

Supernaturalisme adalah Cara Pandang

Akal pikiran manusia sangatlah terbatas untuk mengakses segala sesuatu yang terjadi di dunia. Untuk memudahkan pemahaman, Dr. Fahruddin Faiz membagi cara pandang menjadi 3 tingkatan sebagai berikut:
1. Naturalisme
Seperti yang telah dipaparkan, naturalisme sama dengan positivisme Barat--alam semesta adalah sesuatu yang dapat dijangkau oleh panca indra. Oleh karena itu, manusia akan berpikir bagaimana cara agar hidup selaras dengan alam. 

2. Supernatural
Segala sesuatu di mana manusia tidak dapat memahami secara natural, hal ini sungguh di luar jangkauan panca indra dan akal pikiran. 

3. Humanisme
Manusia menjadi pusat atau objek terpenting dari alam semesta. Sedangkan, di sini agama dan Tuhan dihadirkan sebagai kesejahteraan demi kebaikan manusia. Bahkan, di sini manusia memiliki hak untuk mempercayai adanya Tuhan atau tidak, tergantung bagaimana sudut pandangnya. 


Dari tiga hal tersebut, supernatural memiliki kedudukan yang tidak mudah untuk diterima oleh manusia. Supernatural sendiri masih dibagi pada dua tingkatan, level rendah dan level tinggi. Ada pun level rendah adalah ketika manusia masih mepercayai adanya jin, takhayul, serta mitos. Hal tersebut masih mudah diterima karena beberapa manusia mungkin pernah mengalaminya. Kedua, supernatural level tinggi membahas tentang alam semesta dan segala isi di dalamnya. Termasuk contoh pada level ini adalah bagaimana Tuhan memberi kekuatan pada manusia yang memiliki karamah; bisa terbang, bisa sujud di atas air, dan lain sebagainya. 


Jadi,  dalam menyikapi fenomena supernatural secara filsafat, manusia perlu memiliki sudut pandang yang berbeda. Maksudnya, sudut pandang tersebut adalah kemampuan untuk menerima segala sesuatu di luar jangkauan logika. Setiap agama akan memiliki interpretasi masing-masing. Sebagai permisalan pada agama Islam, segala sesuatu yang terjadi tidak melulu bisa diukur atau dipertimbangkan secara nalar, karena sejatinya ada Zat Yang Maha Menggerakkan Segala dengan satu kata "kun fayakun" milik-Nya. Terlebih, Al-Qur'an sudah lebih dulu menyebutkan tentang keberadaan dunia yang berlapis-lapis, keberadaan entitas yang tak kasat mata, dan lain sebagainya. Semua ada karena kehendak Allah Ta'ala. Percaya atau tidak, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Wallahu a'lam bisshawab

Sumber:

Dr. Fahruddin Faiz. “Tuhan Maha Penggerak Semua Terjadi Bukan Kebetulan” Youtube, diunggah oleh Ngaji Bebrayan, 6 Februari 2024, https://www.youtube.com/watch?v=T4US7g-1H4o&t=686s

KBBI. 2024. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Online. Available at https://kbbi.web.id/antroposentrisme. [Diakses pada 28 Februari 2024] 

KBBI. 2024. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Online. Available at https://kbbi.web.id/positivisme. [Diakses pada 28 Februari 2024] 


 

Catatan Alila Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review