Hai! Perkenalkan, namaku Lila. Panggil saja "Lila" atau "Alila", atau bisa panggil sesukanya, deh. Asal jangan panggil pakai yang aneh-aneh, apa lagi sampai ngatain, hehe. Jangan, ya, karena al-kalamu nisfu du'a.
Oh, iya. Aku orang Jawa, (Jawa-ban dari doa-doanya di sepertiga malam). Ehe. Aamiin. But, seriously, aku orang Jawa tulen yang tinggal di salah satu kota di bagian barat Jawa Timur. Sebuah kota kecil yang baru-baru ini populer sebab sebuah lagu perihal medhot janji. Well, meski tinggal di kota yang dijuluki sebagai "Kota Ramah" itu, tapi aku lahir dan besar di salah satu kota budaya di Jawa Tengah. Kota dengan sejuta cerita di dalamnya. Iya, benar. Jika di dalam bayanganmu yang terlintas adalah "Kota Solo", nilai 100 untukmu karena aku memang banyak mengenyam pendidikanku di sana.
Emm... Berbicara tentang Solo, aku punya banyaaak sekali kisah di sana. Terutama kisah pada masa putih abu. Mau sedikit cerita, nih. Hehe. Sedikit pengalaman pahit di bangku putih abu.
Layaknya dunia entertain, ketika seseorang berada di bawah, dia akan diinjak-injak dan begitu namanya berhasil membumbung tinggi di atas, dia akan dijunjung-junjung. Yah, jatuh-bangun benar-benar aku rasakan mulai di bangku putih-abu. Berusaha bertahan menjadi minoritas di antara mayoritas yang ada. Hingga suatu hari, perjalanan menata masa depan dimulai. Aku tidak bisa terus terpuruk dalam situasi dan kondisi yang sama sekali tidak mendukungku. Aku mulai maju dengan langkah-langkah kecil. Berusaha bangkit karena pikirku, masa putih-abu yang menurutku suram itu akan segera berakhir. Pelan-pelan aku melangkah kembali, dengan ditemani oleh beberapa orang seperjuangan yang bisa kuanggap sebagai "sahabat". Namun, dalam proses perjalananku, tentu saja bukan hal yang mudah. Tampaknya, benturan antara ziyadah dan murajaah kala itu membuat aku kalang kabut. Sedang syahadah hanya tinggal hitungan hari lagi. Belum lagi, persiapan serangkaian ujian yang nyaris membuatku frustasi sepanjang hari.
Masa-masa itu, bagiku adalah masa yang berat meski sebenarnya belum seberapa. Belum seberapa dari dunia luar yang sesungguhnya. Aku bahkan tidak berpikir ke mana aku akan melanjutkan pendidikanku. Kuliah, kah? Kerja, kah? Aku masih acuh kala itu. Hingga suatu hari, Arabic Fair yang diselenggarakan oleh salah satu PTN ternama di Solo berhasil mencuri hatiku.
"Aku dan Sastra Arab," mimpiku kala itu. Sebuah kompetisi yang membuatku gagal rupanya justru menciptakan planning lain di otakku.
"Jika gagal menjadi peserta, tahun depan mungkin aku bisa jadi panitia."
Tapi, yah... Qadarullah. Sebelum aku berjuang terlalu jauh, takdir-Nya memang selalu tak terduga. Salah satu mimpi yang aku tulis di dalam secarik kertas tercapai!
"S1 Sastra Inggris (PTKIN mana aja entah UIN, IAIN)".
Memang sedari awal, aku hanya berniat untuk lanjut ke PTKIN, atau jika tidak, plan keduaku adalah menuju Ma'had Aly. Euphoria aku, selega itu. Lalu, aku menyampaikan kabar baik ini kepada orang tua yang tak hentinya merapalkan doa demi keberhasilanku. Dan beberapa waktu kemudian, takdir Allah memang selalu tak terduga-duga. Dengan kondisi finansial orang tua yang selalu dihujat tetangga "memangnya petani bisa menguliahkan anak?", ternyata Allah menangkis perkataan mereka dengan suatu senjata yang tak terduga; beasiswa.
Allah, sekali lagi hatiku dibuat berdebar atas nikmat-Mu yang selalu berlebih-lebih.
"Beasiswa S1 Sastra Inggris" yang kutulis dalam secarik kertas bersandingan dengan Shalawat Qamaril Wujud, benar-benar terwujud. Aku malu kala itu, aku malu pada Tuhanku yang telah melebih-lebihkan nikmatnya untukku. Sedang aku sendiri justru terlihat kocar-kacir dengan hafalanku, tirakat hanya aku lakukan sesekali, bahkan aku pun nyaris putus asa terhadap diriku sendiri, tapi apa yang Dia berikan sungguh di luar praduga.
Pesanku buat siapapun yang tengah berjuang, tetaplah istiqomah, istiqomah, dan istiqomah. Jangan lihat bagaimana hasilnya nanti, percayalah, Allah sudah menggariskan yang terbaik untukmu. Dengan catatan; jangan pernah berhenti berusaha & berdoa. Semangat, hidup untuk kita semua yang punya semangat ^^
-end.
Ehem. Jadinya bukan sedikit cerita, ya. Tapi panjang cerita, sepertinya😭 But, it's okay. Sedikit cerita semoga bisa memotivasi, ya. Dan jika ditanya, apa tujuan dan planningku ke depan, jawabannya mungkin akan lebih panjang dari wawancara podcast-nya Om Deddy Corbuzier (canda Om Deddy😭).
Pertama, tentang jurusan Sastra Inggris yang mana di tahun 2021 ini aku berada di semester 4. Goal saat ini adalah selalu mempertahankan cumlaude dan lulus lebih cepat, jika Allah menghendaki. Kenapa harus cumlaude? Karena saat ini, aku mengenyam bangku kuliah selain menjadi tanggungan orang tua juga menjadi tanggungan negara dan aku dibiayai oleh keduanya. Jadi, paling sedikit aku ingin berkontribusi.
Kedua, motivasi masuk Sastra Inggris sejujurnya agar aku bisa mendapat ilmu lalu bisa melamar kerja. Di bidang penerjemahan, planning pertamaku. Dan planning kedua, menjadi editor di sebuah penerbitan mayor. Semoga, jika Allah menghendaki.
Ketiga, apa aku masih punya goal lagi selain yang berkaitan dengan jurusanku? Oh, tentu saja iya. Meski aku tahu aku bukan penulis hebat yang bisa melahirkan karya-karya berkualitas, tapi mimpiku menjadi penulis tak pernah luntur sedikit pun. Aku ingin suatu hari nanti, orang-orang akan mengenalku dengan karya-karyaku, entah novel atau remahan puisi-puisiku. Ya, aku tidak akan menyerah. Aku maju, harus selalu maju seperti apa yang pernah aku katakan kepada seseorang; Kalau kamu cari yang cantik, aku maju. Kalau kamu cari yang cerdas, aku juga maju, apa lagi kalau kamu cari yang suka nulis, aku maju paling depan!
Keempat, adalah ketertarikanku dengan ilmu-ilmu yang berbasis agama. Meski mengambil jurusan sastra, tapi jujur saja, aku lebih tertarik dengan mata kuliah berbasis kegamaan seperti fikih, ilmu kalam, sejarah peradaban Islam, dan Islam dan budaya Jawa. Goalku, aku berpengetahuan luas dalam hal-hal ini (meski bukan untuk kepentingan jurusan dan pekerjaan, ya). Pokoknya, aku harus cerdas setidaknya dimulai dari hal-hal paling kecil, untuk diajarkan kepada anak-anakku kelak. Because of Al-ummu madrasatul 'ulaa.
Btw, let's talk anything with me on my Instagram: @alila.chan_
And you can see some of my webpages in tabs on this blog. See ya!

1 komentar:
Bagus, semoga tercapai semua harapannya, dan senantiasa istiqomah dalam berkarya...
Posting Komentar