Pada dasarnya, Islam memiliki dua peran, yaitu Islam sebagai doktrin dan Islam sebagai jalan hidup. Namun, Islam sebagai doktin di sini bukanlah merupakan suatu bentuk pendikotomian, akan tetapi berfungsi sebagai klasifikasi pada suatu objek kajian, mana yang perlu dikaji dan mana yang tidak perlu dikaji.
Berbicara mengenai Islam sebagai doktrin, doktrin adalah suatu ajaran yang bersifat absolut atau tidak bisa diganggu gugat. Dalam ajaran Islam, memang ada ajaran yang bersifat dinamis (bisa berubah-ubah), akan tetapi juga ada ajaran yang bersidat absolut (tidak bisa diganggu gugat) meskipun zaman selalu berkembang. Dan ajaran yang tidak bisa diganggu gugat inilah yang disebut sebagai doktin. Ada tiga trilogi doktrin Islam, yaitu:
1. Islam
Mencakup tentang rukun Islam 5 yang wajib dikerjakan oleh seorang muslim. Karena sejatinya, Islam di sini adalah suatu perbuatan zahir yang wajib dilakukan seperti syahadat, salat, zakat, puasa, dan menunaikan ibadah haji. Lalu, di mana letak keabsolutannya? Sebagai contoh, Si A yang tinggal di Indonesia hendak melaksanakan salat akan tetapi dia ingin berjamaah dengan imam yang ada di Arab sana. Dia lalu melakukan teleconference agar bisa berjamaah. Waktu isya antara Indonesia dan Arab jelaslah berbeda. Maka dari itu, tidak bisa si A melaksanakan salat berjamaah via teleconference seperti itu. Maka, di sinilah perannya, sebab tidak semua sesuatu itu bisa diganggu gugat.
2. Iman
Jika dalam rukun Islam adalah perbuatan zahir, maka dalam tingkatan ini manusia tidak hanya melakukan perbuatan zahir semata, akan tetapi memakai hati sebagai bentuk keyakinan. Keyakinan terhadap apa saja? Yaitu keyakinan yang tercakup di dalam 6 rukun iman:
- Iman kepada Allah SWT
- Iman kepada malaikat
- Iman kepada kitab-kitab
- Iman kepada para rasul
- Iman kepada hari akhir, dan
- Iman kepada qada' dan qadar
3. Ihsan
Bagaimanapun, meskipun tidak bisa melihat secara kasat mata, akan tetapi manusia harus meyakini bahwasanya Allah adalah tujuan paling inti dan Dia senantiasa mengetahui apa yang hamba-hamba-Nya perbuat. Manusia harus yakin bahwasanya ketika melakukan hal apapun, tidak luput dari pengawasan-Nya.
Setelah berbicara Islam sebagai doktrin, maka selanjutnya adalah Islam sebagai the way of life atau jalan hidup. Islam tidak hanya memandang segala sesuatu dari satu sisi, akan tetapi dari banyak sisi seperti di bidang sosial, ekonomi, politik, budaya, dan yang lainnya.
Mengutip dari apa yang disampaikan oleh Pak Ahmad Muzakkil Anam M.Pd, I., dosen Metodologi Studi Islam Institut Agama Islam Negeri Surakarta, beliau mengambil kutipan dari salah satu dosen beliau yang berbunyi, "Kanjeng Nabi Muhammad SAW itu jangan dipandang sebagai menteri agama". Maksudnya bagaimana? Peran kanjeng Nabi Muhammad SAW tidak hanya mengurus masalah agama saja, akan tetapi beliau juga mengurusi negara. Tentang bagaimana siasat ekonomi, tidak memperbolehkan riba, syarat sah akad dalam jual beli, dan hal-hal lain yang bersifat duniawi.
Kemudian, jika kita hendak menjadikan Islam sebagai the way of life, maka kita juga harus menyesuaikannya dengan kondisi zaman yang selalu berubah-ubah. Ya, tak bisa dipungkiri bahwasanya Al-quran dan hadit sudah selesai berabad-abad silam (tanpa ada penambahan) seiring berjalannya waktu, sedangkan zaman terus berkembang dengan segala problematikanya. Jika manusia tidak bisa menyesuaikannya, akan sangat fatal akibatnya. Seperti contoh, seseorang yang tidak mau melakukan/memakai sesuatu dengan dalih sesuatu itu tidak ada di zaman Kanjeng Nabi SAW lalu dia menghakimi bahwa sesuatu itu bid'ah (sesuatu yang tidak ada di zaman Kanjeng Nabi SAW) dan haram hukumnya. Padahal, bid'ah sendiri terbagi menjadi dua yaitu bid'ah hasanah (yang baik) dan bid'ah dhalalah (yang menyesatkan). Contoh kecil, tanpa adanya bid'ah (khasanah, tentu saja) umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW sekarang tidak akan bisa membaca Al quran yang dulunya hanya Arab gundul, karena pemberian syakal tidak ada di zaman Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Dari sini bisa kita simpulkan bahwasanya peran studi Islam adalah sebagai jembatan antara teks yang bersifat absolut dan keadaan zaman yang dinamis. Berikut adalah beberapa prinsip Islam sebagai the way of life:
- Sesuai fitrah
- Seimbang dunia-akhirat
- Tidak mempersulit manusia
- Menyesuaikan IPTEK
- Orientasi masa depan lebih baik
- Adil
- Persamaan derajat
0 komentar:
Posting Komentar