Sabtu, 02 Maret 2024

Pandangan Filosofis Supernaturalisme ala Dr. Fahruddin Faiz

Diposting oleh A.Lila di 23.07

Setiap manusia pasti memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menyikapi segala yang terjadi di alam semesta dan seisinya. Dalam hal ini, Dr. Fahruddin Faiz mengungkapkan hal yang termasuk di dalamnya adalah tentang konsep supernaturalisme, yaitu suatu keimanan pada hal-hal yang tidak nampak. Manusia beragama pasti memiliki keterbukaan dalam menerima hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran. Beliau menyampaikan sekilas mengenai konsep supernaturalisme dari segi filsafat--yang paling sedikit--mudah dipahami untuk pembelajar awam. 

Antroposentris - Barat Modern

Sebagaimana diketahui mengenai antroposentrisme, paham yang menyatakan bahwa manusia adalah entitas paling penting dari alam semesta dibanding hewan dan makhluk lainnya, atau bisa juga diartikan sebagai ajaran yang menyatakan bahwa pusat semesta adalah manusia. Secara sudut pandang ilmu, antroposentris hanya menerima alam fisik sebagai acuan, tidak serta-merta menerima pada hal gaib. Mengapa demikian? Tentu saja, hal itu dikarenakan ilmu adalah menerima sesuatu secara logic (masuk akal) dan bisa dilihat oleh panca indra. Sudut pandang seperti ini kemudian melahirkan aliran positivisme, di mana pengetahuan itu semata-mata berlandaskan pada ilmu dan pengalaman yang pasti.

Hal tersebut tentulah tidak bisa disangkal karena salah satu tujuan Tuhan menciptakan akal bagi manusia adalah agar bisa berpikir logis, terutama untuk membedakan yang haq dan yang bathil. Namun, apakah kehidupan di dunia ini hanya berdasarkan fakta-fakta atau sesuatu yang jelas tampak oleh mata saja? Tentu tidak. Secara umum, Dr, Fahruddin Faiz memetakan supernatural menurut Thomas Aquinas menjadi 3 jenis:

1. Above Nature, berkaitan dengan Tuhan dan segala sesuatu yang mengatur alam. 

2. Beyond Nature, berkaitan dengan dunia lain seperti dunia jin atau makhluk tak kasat mata lainnya.

3. Against Nature, ada di sekeliling manusia akan tetapi sifatnya di luar hukum alam. 

Ilustrasi: PatoLenin by Pixabay

Supernaturalisme adalah Cara Pandang

Akal pikiran manusia sangatlah terbatas untuk mengakses segala sesuatu yang terjadi di dunia. Untuk memudahkan pemahaman, Dr. Fahruddin Faiz membagi cara pandang menjadi 3 tingkatan sebagai berikut:
1. Naturalisme
Seperti yang telah dipaparkan, naturalisme sama dengan positivisme Barat--alam semesta adalah sesuatu yang dapat dijangkau oleh panca indra. Oleh karena itu, manusia akan berpikir bagaimana cara agar hidup selaras dengan alam. 

2. Supernatural
Segala sesuatu di mana manusia tidak dapat memahami secara natural, hal ini sungguh di luar jangkauan panca indra dan akal pikiran. 

3. Humanisme
Manusia menjadi pusat atau objek terpenting dari alam semesta. Sedangkan, di sini agama dan Tuhan dihadirkan sebagai kesejahteraan demi kebaikan manusia. Bahkan, di sini manusia memiliki hak untuk mempercayai adanya Tuhan atau tidak, tergantung bagaimana sudut pandangnya. 


Dari tiga hal tersebut, supernatural memiliki kedudukan yang tidak mudah untuk diterima oleh manusia. Supernatural sendiri masih dibagi pada dua tingkatan, level rendah dan level tinggi. Ada pun level rendah adalah ketika manusia masih mepercayai adanya jin, takhayul, serta mitos. Hal tersebut masih mudah diterima karena beberapa manusia mungkin pernah mengalaminya. Kedua, supernatural level tinggi membahas tentang alam semesta dan segala isi di dalamnya. Termasuk contoh pada level ini adalah bagaimana Tuhan memberi kekuatan pada manusia yang memiliki karamah; bisa terbang, bisa sujud di atas air, dan lain sebagainya. 


Jadi,  dalam menyikapi fenomena supernatural secara filsafat, manusia perlu memiliki sudut pandang yang berbeda. Maksudnya, sudut pandang tersebut adalah kemampuan untuk menerima segala sesuatu di luar jangkauan logika. Setiap agama akan memiliki interpretasi masing-masing. Sebagai permisalan pada agama Islam, segala sesuatu yang terjadi tidak melulu bisa diukur atau dipertimbangkan secara nalar, karena sejatinya ada Zat Yang Maha Menggerakkan Segala dengan satu kata "kun fayakun" milik-Nya. Terlebih, Al-Qur'an sudah lebih dulu menyebutkan tentang keberadaan dunia yang berlapis-lapis, keberadaan entitas yang tak kasat mata, dan lain sebagainya. Semua ada karena kehendak Allah Ta'ala. Percaya atau tidak, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Wallahu a'lam bisshawab

Sumber:

Dr. Fahruddin Faiz. “Tuhan Maha Penggerak Semua Terjadi Bukan Kebetulan” Youtube, diunggah oleh Ngaji Bebrayan, 6 Februari 2024, https://www.youtube.com/watch?v=T4US7g-1H4o&t=686s

KBBI. 2024. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Online. Available at https://kbbi.web.id/antroposentrisme. [Diakses pada 28 Februari 2024] 

KBBI. 2024. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Online. Available at https://kbbi.web.id/positivisme. [Diakses pada 28 Februari 2024] 


0 komentar:

Posting Komentar

 

Catatan Alila Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review